Apa yang salah?

Ini bukan permainan ‘Apa yang salah dengan gambar ini’. Tapi sedikit penjelasan mengenai apa yang salah/kurang memuaskan dengan calon rumah kami. Dengan bahasa yang sederhana tentu saja, karena saya bukan orang tehnik. Saya hanya seorang ibu rumah tangga yang suka menulis/mengetik untuk mengasah kemampuan bercerita secara tulisan dan mencurahkan berbagai macam ide yang ada di kepala. Dst, dst ….. (kenapa saya jadi cerita macam2 ya ??)

Kesalahan pertama yang kami sadari adalah : kemampuan 3 dimensi kami yang biasa2 saja dan menyebabkan kami menganggap bahwa lahan yang kami miliki besaaaaarrrr sekali.

pic01145

Di atas kertas, lahan itu terlihat sangat besar. Apalagi luasnya sekitar 3000m2. Bandingkan dengan rumah2 di perumahan yang hanya memiliki luas sekitar 100 – 300 m2. Jauh sekali kan, bedanya? Akibatnya kami jadi seenaknya menanam pohon sebelum lokasi rumah/bangunan ditentukan. Dan begitu pengukuran dimulai, yang bisa kami katakan hanya, ‘Lo kok begitu?’, dan ‘Wah kelihatan kecil ya?’ !

Kesalahan kedua : Karena tidak didukung oleh orang2 yang profesional di bidang bangun-membangun rumah, saya dan suami menentukan ini dan itu secara mandiri. Bahasa kerennya sih autodidak. Tapi tidak kelihatan kerennya kalau sudah melibatkan kesalahan. Walaupun tidak terlihat fatal sih…… Ceritanya begini : untuk tembok pagar rumah, kami mendirikan tonggak2 cor semen dahulu sebelum memasang batako.

pic01144

Dalam bayangan kami, cara seperti ini lebih hemat biaya, karena kami dapat mengerjakannya secara bertahap. Tahap 1 pagar tembok setinggi 2,5 meter, tahap 2 pagar tembok sisanya, sehingga total tinggi pagar temboknya 5 meter.
Pada kenyataannya, pasangan batako dan tiangnya tidak mau (tidak bisa) menyatu!! Sehingga ada celah di antaranya. Padahal kami berpikiran untuk tidak melapisi tembok ini dengan adukan semen supaya tekstur batakonya terlihat jelas 😦

Kesalahan berikutnya adalah pada denah rumah.

final design

Kalau dilihat di atas kertas, sepertinya semua oke. Sempurna. Tidak ada celanya. Tapi tidak ada apapun di dunia ini yang sempurna 100%. Dalam postingan sebelumnya saya menyatakan bahwa denah ini sangat pas diterapkan di lahan yang kami miliki. Tapi pada kenyataannya, ada beberapa detail yang harus berubah.

final design revisi 1

[keliatan angkanya kan?]
Angka 1 menunjukkan ambang pintu ke ruang belajar. Ruang belajar ini fungsinya adalah untuk saya, suami dan anak mengerjakan tugas kami masing2. Saya ngeblog dan menjalankan online shop, suami bermain game online dan browsing, anak belajar, mengerjakan PR dan bermain. Maklum, anak cuma 1, kalau dibiarkan belajar sendiri di kamarnya malah jadi menjauh dari ortunya…..[kuatir yang tidak beralasan?]
Ambang pintu di denah ada di sebelah kiri ruangan. Tapi setelah dipikir-pikir, seharusnya ruangan ini tidak memerlukan pintu. Sepertinya cukup ambang pintu yang lebar saja sudah cukup. Dan di tengah2 dinding. Tapi karena pembesian untuk kusen pintu sudah dipasang, jadi saya menyerah. Tapi kami tidak/belum berencana memasang daun pintu di situ. Yah, sapa tahu butuh kamar tidur untuk tamu …….

Angka 2 adalah kamar mandi luar. Bentuknya yang hampir bujursangkar membuat kami jadi pusing menentukan letak sanitarinya….dan akhirnya jadi seperti ini :

kamar mandi luar

Angka 3 & 4 adalah ruang makan dan dapur yang direncanakan open-plan. Dari hasil konsultasi dengan sorang teman arsitek, kami disarankan untuk menutup daerah ruang makan dan dapur dengan dinding dan pintu, untuk memisahkan ruangan ini dengan ruang duduk. Alasannya supaya debu dan partikel dari makanan tidak beterbangan masuk dan lengket ke perabot ruang duduk. Bahkan dengan kipas penyedot (exhaust fan) pun tidak akan banyak menolong. Lagian watt-nya pasti besar 😦

Akhirnya kami memutuskan untuk membangun dinding pemisah, tapi tanpa pintu. Dan harus memasak masakan yang kira2 ribet di dapur servis

dapur&ruang makan

Tapi bagaimanapun jadinya rumah ini, tetap akan menjadi rumah dengan segala kerja keras dan keruwetan yang akan menjadi kenangan di masa depan. Rumah yang menjadi impian idealis kami, walaupun hanya mendekati 50%nya. Rumah yang menjadi tempat kami untuk membesarkan dan mendidik anak, yang semoga saja menjadi memori indah buat si anak. Rumah yang bisa menjadi bahan studi/perbandingan buat siapa saja yang ingin belajar ………….

Ikuti terus perjalanan kami mewujudkan the House We Called Ours !!!
Tuhan Yesus selalu memberkati !!!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s