Transfer gambar dan Keramik

IMG_20141106_130258

Seni decoupage bisa diaplikasikan ke banyak media. Tapi umumnya orang menggunakan media kayu, seperti kotak kayu, baki/tray kayu, meja kayu, kursi kayu dan lain sebagainya. Padahal masih banyak media yang bisa dihias dengan seni ini. Contohnya plastik, kertas, metal dan keramik.

Karena itu kali ini saya mencoba transfer gambar ke atas keramik. Kebetulan banyak persediaan keramik murah, yang harusnya dipakai untuk pembangunan rumah 😀 Kebetulan lagi, keramik yang saya gunakan ini memiliki permukaan yang tidak kilap, sehingga tidak licin. Yang berarti akan ada alasan untuk menggunakan keramik yang kilap dan licin sebagai media percobaan decoupage berikutnya 😀

Untuk Mod Podgenya, saya menggunakan Mod Podge Paper karena hanya ini yang tersedia. Selain itu saya juga penasaran, apakah Mod Podge Paper juga bisa digunakan untuk transfer gambar.

Sedangkan gambar yang saya gunakan adalah gambar seorang gadis cilik yang menggunakan baju dan topi kerudung khas pedesaan zaman tahun 1970an. Gambar ini dulu saya kenal sebagai ‘gadis Sarah Kay’ dan merupakan ciptaan seorang ilustrator Australia bernama  Vivien Kubbos (http://www.sarahkay.com/about-sarah-kay/about-the-artist/). Gambarnya sendiri saya dapatkan melalui akun facebook Bagus-bagus Wrapping.

Tehnik yang saya gunakan pada saat transfer gambar sama persis dengan tehnik sebelumnya. Hanya saja kali ini saya lebih bersabar menunggu sampai 24 jam sebelum mulai menggosok gambar. Dan hasilnya benar-benar memuaskan !! Entah karena saya lebih berhati-hati dalam menggosok, atau karena waktu tunggu yang lama……

Dan karena ada beberapa gambar seri Sarah Kay yang sudah saya miliki, saya akan mencoba transfer gambar ke keramik lagi, tapi menggunakan media Mod Podge yang berbeda. Demi kepuasan saya sendiri? atau demi keinginan saya untuk mengetahui perbedaan penggunaan setiap media Mod Podge dan semacamnya? Pertanyaan yang saaangat sulit untuk dijawab 🙂

Terima kasih sudah mengikuti perjalanan kami dalam The House We Called Ours

Tuhan Yesus Memberkati 🙂

Advertisements

Kembali lagi !!!!

Sudah sekian lama saya tidak berada di sini. Saya mengalami kebuntuan ide, apa yang harus ditulis. Kenyataan bahwa pembangunan rumah kami berjalan begitu lambat dan problem dengan para tukang yang seakan tidak ada habisnya membuat saya merasa tidak ada gunanya bercerita masalah pembangunan ini. Sepertinya memang butuh banyak kesabaran dan ketelatenan dalam hal membangun rumah. Sabar menghadapi tukang, sabar menunggu dana terkumpul kembali, telaten membereskan dan mengurus hal-hal sampai sekecilnya…….dan yang terpenting adalah sabar menunggu rumah selesai! Benar-benar SABAR dalam segala artinya 😀

Dalam proses pembangunan ini saya dan suami jadi mengerti betapa pentingnya punya jadwal rencana kerja. Selain itu pengawasan yang terus menerus dan teliti juga diperlukan untuk memastikan bahwa tukang bekerja dengan benar. Mungkin karena perbedaan persepsi atau pengalaman yang kurang, sehingga banyak hal yang jadi ‘tidak pada tempatnya’. Sebagai contoh : tukang memasang wall shower di ketinggian yang lebih sesuai untuk pemain basket NBA dibandingkan orang Indonesia pada umumnya !

Di luar hal-hal yang terjadi di atas, kami masih tetap berpendapat bahwa – bila ada waktu – menjadi kontraktor atas pembangunan rumah sendiri lebih hemat dari segi dana. Mengenai waktu kerja yang hampir 2 tahun, kontraktor profesional pun butuh waktu yang sama (setidaknya di kota kami ini).

Beberapa foto pembangunan rumah yang terbaru adalah :

IMG_20150114_150739

Pintu depan dan jendela ruang penyimpanan yang seluruhnya terbuat dari besi sudah terpasang, tapi belum dicat. Tembok sudah diplester. Lantai masih dalam kondisi belum diplester.

IMG_20140910_152530

 Pintu menuju ruang tidur anak (sebelah kiri) dan ruang belajar (sebelah kanan)

kitchen

Dapur dilihat dari ruang duduk….Kusen dan teralis jendela belum selesai dipasang, lantai juga belum diplester. Meja dapur masih berupa pasangan bata dan cor untuk permukaan meja (tabletop). Maaf atas hasil foto yang bokeh alias kabur, karena penggunaan mode panorama 😦

master bedroom second door & window

 Pintu dan jendela kamar tidur utama dilihat dari teras. Teralis dan daun jendela belum jadi. Pintu belum dicat, jadi masih bisa dijadikan papan tulis/gambar 😀

IMG_20150213_114913

Semua langit-langit masih tampak seperti ini. Rangka plafon sudah selesai, tapi belum tertutup. Penyebabnya karena instalasi listrik belum selesai terpasang. Kami juga masih menimbang apakah akan menggunakan gipsum (yang lebih mudah dipoles dan dicat) atau papan semen (semacam GRC Board, yang lebih susah dipoles dan dicat – dan berarti butuh tukang yang telaten dan waktu yang susah diperkirakan, tapi lebih tahan air)

dak main house

Dak atap Rumah Utama dilihat dari ruang ibadah. Oke, kami memang menggunakan dak beton dan bukan genteng. Tapi masalahnya, dak beton juga rentan terhadap kebocoran, walaupun kami sudah menggunakan lembaran BONDEX (lembaran baja yang biasanya digunakan sebagai pengganti genteng) sebagai dasarnya (pelapis di bagian dalam). Kenapa? karena ada sedikit kesalahan dalam pemasangan BONDEX. Seharusnya lembaran baja ini ditata secara ‘overlapping’, atau sedikit bertumpu pada ‘tetangganya’ seperti pemasangan genteng. Tapi karena tukang yang kurang teliti dan pengawasan yang kurang intensif, akhirnya terjadilah ‘kecelakaan’ yang mengakibatkan air hujan bisa merembes masuk bila terjadi celah/retakan pada dak beton. Yah, ini hanyalah salah satu saat dimana kami hanya bisa mengelus dada, menarik napas panjang, dan mengingat makna kata SABAR 🙂

service area

Ini yang saya maksudkan dengan ruang ibadah. Ruangan ini ada di lantai 2, di atas ruang servis dan garasi. Kami ingin menggunakannya sebagai ruang doa dan persekutuan

teras depan

Ini teras depan rumah, sebelum tertutup tanah urugan, yang nantinya akan dipakai untuk meninggikan sebagian halaman supaya bisa dipasangi blok paving dan jadi hampir sama tingginya dengan teras rumah dan garasi

tanah urugan

Ini adalah pemandangan dari depan teras rumah. Pemandangan terbaik yang pernah ada !!! Menurut saya sih……

menara air

Foto terakhir adalah menara air, yang nantinya akan menampung 4 tandon air di atas dan 1 tandon air di bawah. Menara air ini direncanakan untuk memiliki ketinggian 15 meter, sehingga air bisa mengalir dari tandon atas ke rumah utama dan ruang servis dengan hanya menggunakan pompa berdaya listrik kecil 🙂

Menulis blog sambil mendengarkan lagu-lagu cantik dari komposer Indonesia favorit saya, Andi Rianto melalui https://soundcloud.com/stream membuat saya jadi tambah betah 😀

Terima kasih sudah mengikuti perjalanan kami dalam The House We Called Ours

Tuhan Yesus memberkati 🙂

Cat Papan Tulis Hitam

Mengapa oh mengapa……..setiap kali saya mencoba membuat judul, hasilnya kurang memuaskan ??? Dalam bahasa Inggris, judul tulisan kali ini adalah ‘Chalkboard Paint’. Tapi terjemahannya jadi serasa bertele-tele dan tidak praktis. Ah sudahlah….yang penting isinya!

Di sini saya ingin menuliskan mengenai pemakaian cat khusus, yaitu ‘Chalkboard Paint’.

DECOART-Americana-Chalkboard-Paint

Cat ini merubah permukaan media menjadi papan tulis hitam jadul – yang dipakai di sekolah2 jaman saya SD-SMA – dan bisa ditulisi dengan menggunakan kapur tulis atau (untuk menghindari debu) spidol kapur khusus alias ‘Chalkboard Marker‘.

Uchida Chalk Marker

Penggunaan Cat ini begitu mudah. Seperti cat air yang sering digunakan dalam pelajaran prakarya, yang harus kita lakukan hanya menggoreskan kuas ke permukaan yang diinginkan, tunggu sampai kering benar, goreskan cat lagi, dan tunggu sampai benar2 kering sebelum mulai ditulisi.

Kenyataannya tidak semudah tulisan !!!!!

IMG_20150121_180850

Bisa terlihat bahwa sapuan kuas yang saya pegang melebar kemana-mana dan hasilnya terlihat tidak rapi. Dan saya mencoba lagi dengan cara yang – seHARUSnya – lebih baik.

IMG_20150129_125225

Yeaaaaa !!!!! Kali ini hasilnya terlihat lebih rapi. Dengan bantuan selotip untuk mencegah agar cat tidak meluber ke tempat yang tidak diinginkan, terlihat bahwa garis cat lebih tegas dan profesional (ciee cieee…….). Sayang sekali bahwa spidol kapur ini agak susah dihapus. Mungkin karena cat kurang kering, atau saya yang tidak sabar menghapus tulisannya….. Yang berarti akan ada percobaan kedua. Yuhuuuu !!!!

Mengenai bahan2 yang saya gunakan dalam tulisan ini, selain 2 bahan utama di atas ada lagi bahan tambahan, yaitu :

kepingan kayu dengan lubang di atasnya

wooden tags

dan tali coklat kasar

jute twine

entah apa istilah bahasa Indonesianya …..

Terima kasih telah mengikuti kami di ‘The House We Called Ours’

Tuhan Yesus Memberkati !!!