Cerita dari seberang : Jepang (part 2 – Osaka)

21 Desember

Shinkansen yang kami naiki berhenti di Osaka Station yang tidak kalah besarnya dari Tokyo Station. Di sini pun kami dijemput mobil, demi kenyamanan para senior. Biaya transportnya sama, ¥10,000 per orang.

15621984_1389894177689076_6723137170298701525_n

baru turun dari mobil

Kami menginap di Ibis Styles, Osaka yang terletak di pusat keramaian Dotonbori. Jalan masuk ke arah hotel mirip dengan di Kuta…..kecil. Hotelnya pun tidak terlalu besar.

Setelah check-in dan menjemput koper2 besar yang sudah datang dari Tokyo, kami masuk ke kamar masing2 untuk beristirahat.

Kalau di Tokyo, kami bisa mendapatkan 7 kamar di lantai yang sama, di sini kami malah mendapatkan kamar di lantai2 yang berbeda. Kok begitu? Ya, karena kami pesan kamar Superior, yang hanya ada 1 di setiap lantai. Untung sistem lift di sini lebih sederhana, jadi kami masih bisa berpindah lantai dengan modal kartu kamar saja.

15589650_1389962631015564_526218292718013171_n

ibis styles Osaka – superior room

Kamarnya sendiri jauh lebih sederhana dibandingkan hotel di Tokyo. Padahal tarifnya lebih mahal. Kamar mandinya sempit dan terkesan kuno. Kamar superior dengan 2 ranjang ini sebetulnya bisa saja diisi 2 dewasa dan 2 anak, tapi karena anak sudah usia 11 tahun jadi dihitung dewasa dan dimasukkan ke kamar lain yang ukurannya sama tapi ranjangnya 4 single.

dotonburi-1

satu dari deretan penjual takoyaki di pinggir kanal Dotonbori

takoyaki

takoyaki

Malam ini kami jalan2 di sekeliling hotel dan mencoba Takoyaki yang terkenal itu. Antriannya lumayan panjang, untung cepat majunya. Saking terkenalnya takoyaki, ada tulisan dalam beberapa bahasa yang menyebutkan pilihan saus dan harga per porsinya. 1 piring berisi 10 takoyaki harganya ¥500. Pilihan bumbunya ada BBQ dan Soya (asin). Enak? biasa aja tuh.

img-20161225-wa0022

Dari sana kami foto di depan Glico Man, ikon Osaka yang sangat ngetop di kalangan wisatawan.

22 Desember

15590081_1391156734229487_5032412641806365614_n

jalan ke arah stasiun

Hari ini belajar lagi. Belajar naik metro.  Di dekat sini ada stasiun Namba, yang bisa dicapai dengan jalan kaki 5 menit, asal tidak nyasar. Karena stasiunnya jadi satu dengan mal bawah tanah, dan pintu keluarnya tidak hanya satu. Ada sekitar 20an pintu untuk keluar ke jalan raya. Jadi kalau salah keluar, alamat jalan lebih panjang ke hotel.

Dari Namba, kami pergi ke Umeda yang berada di tengah2 Osaka. Maunya sih makan siang bersama di lantai paling atas Lucua Dept. Store. Tapi ternyata tempat yang kami masuki adalah jajaran restoran mahal, mulai dari ¥1,500 per orang. Jadi kami pindah ke basement, karena ada tulisan food hall di papan petunjuknya. Biasanya food hall menyediakan makanan dengan harga lebih murah.

15589630_1391153637563130_7712401032904944243_n

meja makan di resto tonkatsu

Sampai di bawah kami bingung, karena hanya menemukan penjual kue2 dan snack. Wah food hall nya kok beda dari bayangan yah?? Akhirnya kami menemukan resto yang menjual tonkatsu dengan harga ¥600. Yah lumayan murah lah. Apalagi porsinya lumayan banyak.

Setelah makan, baru kami menemukan food hall yang dicari. Ternyata posisinya di bagian belakang, sedangkan tadinya kami malah jalan ke arah luar. Tempatnya mirip dengan lokasi supermarket milik Takashimaya di Ngee Ann City, Singapore. Hanya saja di sini disediakan tempat duduk, jadi ga perlu makan sambil berdiri.

23 Desember

It’s Kyoto time !!!

kyoto

Hari ini kami ke Kyoto naik mobil sewaan. Tujuan pertama adalah menonton pertunjukan Samurai dan Ninja di Toei Kyoto Studio. Tempat ini adalah semacam Universal Studios versi Jepang. Dan masih digunakan sebagai lokasi syuting film.

img_20161221_110559_1

Toei Kyoto Studio

Semua pertunjukan dalam bahasa Jepang, jadi siap2 aja ngantuk dan bosan melihatnya. Yang perhatian dengan jalan ceritanya hanya mereka yang tahu atau pernah baca tentang para samurai Jepang, khususnya Toyotomi Hideyoshi (pemimpin & pendiri Osaka Castle) dan teman2nya. Sisanya? blank!!

15697227_1391718234173337_414708254616525211_n

jalanan ke arah hutan bambu

Dari tempat ini kami menuju Arashiyama yang terkenal dengan hutan bambunya. Sayang cuaca gerimis, jadi agak mengganggu olahraga jalan kaki hari ini 😀

15589805_1391752137503280_3744734969906825896_n

hutan bambu Arashiyama

Jalannya ngga jauh, hanya sekitar 3 kilo pp dari parkiran mobil. Masalahnya di kiri-kanan jalan dipenuhi deretan toko suvenir yang sedap dipandang. Ha !! Jadi sebaiknya kami naik taksi ke hutan bambu ( ¥700) kemudian baru turun jalan kaki. Eh, pas banget waktu ke hutan bambu gerimis dan pas turunnya cuaca sudah lebih cerah hahaha ….

img_20161221_133505

pintu masuk kuil di hutan bambu

img_20161221_133725

membungkuk ala Jepang di pintu gerbang salah satu bangunan di hutan bambu

Hutan bambu Arashiyama ini bisa dicapai dengan kereta. Berhentinya pas di tengah2 kompleks pertokoan. Jadi mudah sekali kalau mau jalan2 sendiri tanpa harus sewa mobil atau ikut tur.

Dari hutan bambu, kami lanjut ke kuil Buda yang masuk salah satu peninggalan sejarah UNESCO. Namanya Kiyomizu-dera.

15672557_1391852320826595_3144264735121131977_n

img_5251

Banyak pria dan wanita berbusana khas Jepang di sini. Bisa sewa di sekeliling kuil, atau sudah dipakai sejak dari rumah. Katanya, pemakai busana tradisional dapat diskon 50% kalau naik taksi di Kyoto. Boleh juga nih idenya, demi menggalakkan budaya pemakaian kimono dan semcamnya.

higashiyama-1

Higashiyama

img_5256img_5259img_5291

Daripada keliling kuil, saya lebih tertarik mengelilingi daerah sekitar kuil yang dipenuhi dengan toko2 kecil dan kedai kopi/teh. Jalanan yang naik dan turun mengikuti kontur pegunungan dan bangunan model kuno jadi pemandangan yang menakjubkan. Serasa kembali ke masa lalu.

img_5293

Serbet imut yang hanya dijual di Kyoto

img_5295img_5269

24 Desember

Hari ini lebih nyantai, setelah kemarin seharian keliling Kyoto & ditutup dengan makan malam yakiniku di dekat hotel.

Setelah menikmati makan pagi di hotel (yang paling istimewa cuma salad khas jepang, isinya jamur es dan rumput laut basah + salmon panggang) kami jalan2 ke toko ¥108. Setelah itu kami balik hotel, karena ada janji mau ke rumah saudara, sekalian jalan2 ke pinggiran kota. Pengen juga lihat2 perkampungan di Jepang seperti apa sih…..

Jadi kami naik kereta dari stasiun Namba menggunakan Kintetsu Line. Nantinya kami akan berhenti di stasiun Mito dan jalan kaki ke apartemen. Kami sempat mendapatkan kereta yang beda dari biasanya, duduknya ber2-2 dan interiornya mirip kabin pesawat.

Sampai di Mito, kami jalan2 ke supermarket lokal. Di situ juga ada toko ¥108 dan toko baju yang semuanya lagi diskon 25% ke atas.

Kami sampai di stasiun Mito jam 6:30, dan jalan2 sudah sepi. Walaupun pengunjung supermarket ramai, tetap saja lingkungannya sepi. Dan bersih. Tidak ada satupun sampah terlihat. Tong sampah pun tidak kelihatan sama sekali.

15727157_1393274830684344_5938122549424934179_n

Makan malam rumahan ala Jepang

15741034_1393274820684345_6833639253896742546_n

Lampu2 di Midori-suji

15665604_1393274867351007_882974719824113802_n

Jepang juga bisa macet 🙂

Setelah makan malam, kami diantar pulang ke hotel naik mobil. Jarak dari apartemen ke hotel hanya sekitar 8 kilo. Sebelum sampai di hotel kami melewati Midori-suji, jalan utama untuk bisnis dan belanja di Osaka. Jalanannya menarik, karena pohon2 di pinggir jalan dipasangi lampu2. Setiap blok memasang lampu yang berbeda, sehingga suasana Natalnya jadi terasa sekali. Oh ya, ini malam Natal. Dan banyak orang keluar menikmati pemandangan jalan2 di kota. Dan kami ketemu macet seperti di Indonesia malam ini.

25 Desember

Hari ini kami ke Kobe naik mobil. Kali ini kami diantarkan tidak sebagai tamu, tapi sebagai keluarga. Hitung2 merayakan Natal ala Jepang 😀

Dari hotel ke Kobe tidak terlalu jauh….apalagi di sini jalan bebas hambatan semua. Sebagian melewati terowongan, sebagian lagi jembatan. Termasuk jembatan Akashi-Kaikyo yang bentuknya mirip dengan jembatan Golden Gate di San Fransisco.

img_5301

img_5305

Jembatan Akashi-Kaikyo

Jembatan sepanjang 3,5 km ini menghubungkan pulau Awaji dan pelabuhan Kobe. Pulau Awaji sendiri adalah sebuah pulau kecil yang menjadi titik pusat gempa Kobe di tahun 1995. Di sini kami naik ferris wheel untuk melihat pemandangan pulau dari atas. Harga tiketnya ¥2000 untuk 5 penumpang.

img_5317

jaringan jalan raya pulau Awaji dilihat dari atas

img_5330

Pulau Awaji dan Jembatan Akashi-Keikyo dilihat dari atas

Dari pulau ini kami pindah ke daratan Kobe untuk mengunjungi museum gempa, The Great Hanshin-Awaji Earthquake Memorial Museum.

img-20161225-wa0017

Berbeda dengan museum kebanyakan, di sini kami mulai dari lantai paling atas dan kemudian turun lantai demi lantai. Di paling atas kami menonton film 3D tentang gempa Kobe. Di lantai bawahnya kami bisa membaca cerita orang2 yang selamat dari gempa, cerita tentang bantuan dari pemerintah Jepang, juga bagaimana negara ini menyiapkan penduduknya menghadapi gempa berikutnya. Ada juga pengetahuan tentang membangun bangunan anti gempa dan bangunan pendukung bila telah terjadi gempa, seperti kamar mandi dari kardus/papan styrofoam, maket rumah tinggal sementara, relokasi gempa.

Di lantai 1, kami disuguhi film tentang tsunami terbesar di Jepang pada bulan Maret 2011. Diceritakan bagaimana ombak setinggi 15 meter menerjang daerah Sendai, dan menghancurkan puluhan ribu rumah. Bahkan ada sebuah kapal yang terbawa masuk ke daratan. Kapal ini sempat diajukan sebagai monumen peringatan, tapi akhirnya dibongkar oleh pemerintah karena sebagian besar penduduk lokal menolaknya.

img_20161223_151806_1

Pemandangan dari pelabuhan Kobe

Dari museum kami berpindah ke pelabuhan Kobe. Bukan pelabuhan untuk kapal barang, tapi pelabuhan kapal penumpang dan tempat rekreasi. Ada tempat belanja juga, namanya Umie. Kemudian ada deretan restoran masakan laut yang memiliki pemandangan ke arah laut.

img-20161223-wa0039

Pelabuhan Kobe dan kapal pesiar jarak pendek, Concerto

img-20161224-wa0011

Pelabuhan Kobe di waktu malam

26 Desember

Hari terakhir di Osaka !! Padahal masih banyak tempat yang belum sempat dikunjungi.

Sore ini kami berencana ke Osaka Castle. Kenapa sore? Karena kami ingin melihat efek lampu di sana.

15800477_1403991032946057_7556062339118845457_o

Sebelum ke istana Osaka, kami jalan2 dulu di area sekitar hotel. Ada Shinsaibashi-suji, sebuah jalan yang dipenuhi toko. Kalau mau seharian menyusuri jalan ini pun bisa.

Gara2 kelamaan jalan, akhirnya kami terlambat sampai di Osaka Castle. Museumnya sudah tutup, jadi kami cuma bisa menikmati bagian luarnya saja. Osaka Castle ini disebut2 anti penyusup. Terang saja…… temboknya sangat tebal, dikelilingi parit yang lebar dan airnya pendek, sehingga susah mau memanjat ke dalam. Di setiap sudut ada pos penjagaan. Gerbang masuknya juga sangat tebal.

osaka-castle

Gerbang masuk kompleks Osaka Castle

Untuk mencapai Osaka Castle jalannya lumayan jauh. Kami harus melewati 3 gerbang besar sebelumnya. Itupun kami harus melewati jalan tercepat supaya tidak kemalaman sampai di Castle.

img_20161224_170710

Kapsul waktu dan Osaka Castle di belakangnya

Malam terakhir di Osaka ditutup dengan makan ramen babi di restoran yang ada naga raksasa di bagian atasnya. Belinya pakai mesin, harganya ¥600 semangkuk. Di sepanjang jalan ada beberapa restoran ini. Ada yang menyediakan tempat duduk, ada yang harus berdiri. Tinggal pilih saja mana yang dimaui. Mereka juga menyediakan air minum dan nasi putih gratis. Jangan lupa bereskan meja dan kembalikan baki & mangkuk ke penjual. Di sini hampir semua tempat makan mewajibkan pembeli untuk beres2 sendiri.

27 Desember

Waktunya pulang ke Indonesia. Kali ini kami naik bus kecil dengan tarif ¥10,000. Waktu meninggalkan hotel cuaca hujan dan masih gelap. Baru jam 6 pagi. Untung saja kami tidak memilih naik kereta ke bandara. Walaupun sebetulnya ada kereta ekspress dari stasiun Namba langsung ke bandara Kansai.

Bahkan sampai bandara pun hujan masih turun, ditambah angin. Matahari juga belum muncul. Dan counter untuk check-in belum buka. Banyak sekali rombongan wisatawan dari Cina yang juga akan pulang ke negara mereka.

kansai

Bandara Kansai dengan latar belakang jembatan menuju Osaka

Bandara Kansai ini dibangun di atas pulau reklamasi. Teknologi pembangunannya sudah menggunakan sistem anti gempa dan anti tsunami. Proses pembuatannya sampai masuk ke channel TV National Geographic dan Discovery. 

Berbeda dengan bandara Changi di Singapura dan Chek Lap Kok di Hong Kong, bandara Kansai termasuk sepi dan luas. Tidak banyak toko yang ada di sini. Yah mirip lah dengan bandara Juanda di Surabaya.

Selamat berpisah, Osaka. Semoga kita bertemu lagi di waktu yang akan datang 🙂

Advertisements

Cerita dari Seberang : Jepang (part 1 – Tokyo)

Seri baru ini punya banyak fungsi. Catatan harian, oleh2 tanpa biaya, dan tips untuk para petualang di luar sana. Di sini saya mau berbagi hal2 yang saya temui selama bepergian ke suatu tempat. Semoga semakin banyak lagi yang bisa saya bagikan (yang artinya semakin banyak negara yang saya kunjungi hahaha).

Berburu tiket perjalanan ke Jepang ini dimulai sejak awal tahun 2016, tepatnya bulan Februari. Kebetulan ada promosi tiket murah Cathay Pacific seharga IDR 5 juta pp. Dengan tanggal2 tertentu untuk berangkat dan pulang (ada blackout date untuk berangkatnya dan full booked untuk pulangnya) akhirnya kami berhasil mendapatkan tiket untuk 15 orang (keluarga besar!!) di tanggal 14 – 27 Desember 2016. Datang melalui bandara Narita, Tokyo dan pulang melalui bandara Kansai, Osaka. Dan jam penerbangan yang menyedihkan :

Berangkat :

Surabaya – Hong Kong 8:20 pagi

transit di Hong Kong

Hong Kong – Tokyo 01:50 dini hari

Pulang :

Osaka – Hong Kong 9:20 pagi

Hong Kong – Surabaya 1:30 siang

Perjalanan ke Jepang ini bakal panjang dan lebar kalau diceritakan dalam 1 blogpost. Jadi ceritanya nyicil2 yah. Biar yang baca juga ga bosen2 amat.

15 Desember

Sampai bandara Narita, proses imigrasi dan ambil koper kami lalui dengan cepat. Paling2 1,5 jam aja udah selesai semuanya.

narita

Hari ini kami  dijemput mobil ke hotel. Tarif mobilnya ¥10,000 per orang. 1 mobil cukup untuk 7 orang + 7 koper besar & 7 koper kabin & bawaan2 lainnya. Pesannya lewat sepupu yang kebetulan kerja jadi guide di Jepang. Lumayan, ketemu orang sebangsa di negara yang tidak fasih bahasa Inggrisnya ini.

Sebetulnya kalau mau lebih murah, naik Limousine Bus (ada jam2nya) yang berhenti langsung di hotel kami. Atau naik kereta (setiap 5-10 menit berangkat) juga bisa. Tiket bis & kereta bisa langsung beli di bandara juga. Tapi agak susah juga buat kami karena bawa koper besar2 dan ada orangtua.  Apalagi ini pertama kalinya ke Jepang….jadi kami belum paham dengan lokasi juga. Takutnya ntar ketemu tangga atau harus angkat2 koper besar gitu.

Selama di Tokyo kami menginap di Hotel Royal Park Shiodome. Bintang 4, lokasi strategis banget. Ada 2 stasiun Metro di dekat hotel, Shimbashi dan Shiodome. Ada Family Mart (konbini,  semacam Indomaret/Alfamart) dan toko obat/kosmetik alias drugstore entah namanya apa (aksara Jepang doang). Tempat makan juga banyaaak….mulai yang murah2 di warung2 sempit & sesak sampai yang mahal2 di Caretta Shiodome.

room-shiodome

Kamar hotel

bathroom-shiodome

Kamar mandi dengan toilet canggihnya

Hotel ini unik banget buat kami. Karena lobi dan resepsionis ada di lantai 24. Sedangkan yang dibilang basement alias ruang bawah tanah, nyatanya malah outdoor.

basement-shiodome

yang ada pohon Natalnya itu basementnya hotel

Check-in baru jam 15:00. Jadi koper dititipkan & kami jalan2 dulu. Makan siang pertama di Yoshinoya dan kami harus susah payah berjuang supaya bisa take-away.

pork-yoshinoya

Pork Rice Bowl ala Yoshinoya

Malamnya diundang makan malam di daerah Asakusa, sambil belajar naik Metro. Sebagian besar stasiun Metro di Jepang sudah cukup tua, sekitar 60 tahunan. Jadi jarang ada tangga berjalan. Cari lift juga tidak gampang. Siap2 kaki pegal deh pokoknya.

Beli tiket di mesin ternyata cukup mudah, karena sudah ada pilihan bahasanya. Tiket Metro sendiri cuma berupa karton kecil, dengan tulisan entah apa. Cara masuk dan keluarnya mirip dengan di Singapura dan Hongkong. Keretanya sangat bersih dan sepi. Dudukannya dilapis beludru. Mungkin supaya waktu musim dingin orang lebih nyaman duduknya yah. Oya, HP harus disilent atau vibrate kalau di dalam kereta. Ngobrol pun ga boleh kenceng2 suaranya. Kecuali pengen dipelototi atau dimarahin penduduk lokal hihihi.

dinner-15-dec

Foto sama tuan rumah, orang Indonesia semua 😀 😀

Makan malam kali ini khas Jepang banget. Dimasak di kompor portable dan menggunakan panci tanah liat, langsung di atas meja makan. Kuah kaldunya cuma rumput laut yang dimasak dengan air. Isiannya bisa pilih, mulai macam2 jamur,macam2 sayuran segar dan macam2 daging. Memang kualitas bahan menentukan kualitas rasa. Apalagi dimakan hangat2 di tempat yang dingin begitu, jadi nambah2 terus deh. Sampai lupa ga makan nasi sedikitpun !!

16 Desember

Rute jalan kali ini ke Ginza, daerah toko mahal2. Tapi yang kami cari adalah Uniqlo. Perlu beli jaket dan HeatTech nih. Uniqlo ini terkenal dengan baju2 terjangkau dan berkualitas. 2 produknya yang mendunia adalah Ultra Light Down Jacket dan HeatTech. ULD Jacket paling enak buat wisatawan, karena bisa disimpan di kantongnya. Sedangkan HeatTech (kaos lengan panjang/pendek/leher kura2, legging, stoking) bisa menahan panas tubuh kita, sehingga kita merasa hangat.

Sebelum berangkat ke Ginza, kami melewati stasiun Shimbashi karena mau beli kartu kereta. Belinya gampang…tinggal cari mesin PASMO/SUICA, pilih bahasa Inggris, cari pilihan NEW CARD. Masukkan uang kertas ¥ 1,000 dan tekan YES. Kartu akan keluar dari mesin. Nominal yang diterima bisa sampai ¥ 10,000 karena kartu ini juga bisa dipakai sebagai kartu debit di banyak tempat, khususnya konbini dan vending machine. Pilihan kartu kereta di Tokyo memang ada 2, Pasmo dan Suica. Keduanya sama persis fungsinya, cuma beda perusahaan saja. Dan ke2 kartu ini juga bisa dipakai di kota2 besar lain di Jepang, termasuk Osaka. Padahal di Osaka sendiri ada kartu kereta yang namanya ICOCA.

Di Ginza, kami juga pergi ke BIC Camera untuk beli kartu SIM. Waktu di bandara kami sempat ambil Pocket Wifi (¥ 11,000 untuk 12 hari dan 7 Gb) dan 1 kartu SIM (¥ 3,450 untuk 30 hari, paket data 300Mb/hari). Tapi karena kami rombongan besar (16 orang) jadi butuh kartu SIM lagi.

Di BIC Camera, kami dapat kartu SIM dengan harga ¥ 2,850 dan paket data 1 Gb untuk 30 hari. Di sini ada jaminan untuk bayar setelah kartu SIM jalan dengan baik. Jadi kalau kartu SIM ga bisa jalan, pembeli ga perlu bayar. Karena pemerintah Jepang memang membatasi jumlah pengguna kartu SIM. Kartu bernomor selular cuma bisa dipake oleh penduduk. Sedangkan wisatawan cuma boleh pake paket datanya saja. Dan karena sebagian besar penduduk pada pake IPhone, pemakai HP merk Cina seperti kami jadi kesusahan mau pakai kartu SIM lokal. Setting kartunya harus dirubah satu demi satu supaya paket data bisa digunakan.

caretta

di Caretta Shiodome

Balik ke Hotel, kami mampir ke Caretta Shiodome. Di sana lagi ada Christmas Lights Illuminations. Jadi semacam pertunjukan pohon2 berlampu dan musik. Ada ceritanya juga, tapi dalam bahasa Jepang. Ya sudahlah, menikmati musik dan lampu2nya saja. Hawa dingin + angin lumayan kencang di lokasi membuat kami memilih untuk masuk ke gedung Caretta saja. Ada beberapa toko, tapi sebagian besar penyewanya restoran. Tinggal pilih, mau masakan Jepang, Meksiko atau Eropa.

17 Desember

Sewa mobil lagi ke Gunung Fuji. Tepatnya ke danau Hakone dan Gotemba Outlet. Harga sewanya ¥130,000 untuk full-day tour untuk 7-9 orang. Kenapa memilih mobil padahal rombongan kami cukup besar?

Sewa bis pariwisata di Jepang banyak aturannya! Tiap bis yang mau berangkat tur harus melaporkan rute perjalanan + jam2nya secara detil ke dinas yang terkait. Dan jadwal ini bakal dipantau secara ketat. Meleng beberapa menit saja sudah bisa mendatangkan sanksi keras. Padahal orang Indo mana bisa diatur seketat itu? Dikasi waktu belanja 1 jam, jadinya 3 jam……hahahahaha

Di danau Hakone kami berlayar dengan menggunakan kapal model kuno dari ujung ke ujung danau. Tapi karena angin di luar lumayan kencang, kami memilih masuk ke bagian dalam dan duduk2 di sana.hakone

hakone-2

ada bagian kelas 1

hakone-3

tempat duduk kami

Dari sini kami lanjut ke Gotemba outlet. Yang hobi belanja bakal suka nih di sini. Karena harganya lumayan miring. Apalagi barangnya belum tentu ada di Indonesia. Tempatnya sangat luas….bisa seharian sendiri menjelajahinya. Dan memang banyak orang yang datang ke sini sekedar untuk rekreasi saja.

gotemba-3

di jembatan parkiran Gotemba, foto di depan gunung Fuji

gotemba1

dingin2 makan es krim

gotemba-2

 Harga makanan di tempat ini cukup mahal, di atas ¥900. Untungnya ada Mc Donald’s yang lebih terjangkau. Paket burger, kentang dan minum harganya ¥700an.

mcd

lego-gotemba

Outlet LEGO di Gotemba

 18 Desember

Saatnya jalan2 ke Shinjuku.

shinjuku

Takashimaya Times Square, Shinjuku

 Di sini ada Tokyu Hands 8 lantai. Jualannya segala macam barang berkualitas & unik. Harganya juga lumayan menguras dompet. Tapi karena alat tulisnya lengkap, jadi masuk aja deh.

udon-shinjukuMakan siang di dekat Takashimaya. Nama tempatnya sih Tsukemen Yasube. Tapi karena ditulis dalam aksara Jepang, entah kapan bisa makan ini lagi. Tempatnya ya seperti di foto atas itu. Kiri dapur, tengah meja makan, kanan sudah dinding tempat gantungin jaket/tas. Ruangan sempit sesak, makan juga harus cepat. Tidak ada waktu untuk nongkrong santai di sini.

udon-shinjuku-2

Tampilan udon ukuran S dan kuahnya

Makanan dipesan melalui mesin. Tinggal pilih porsinya, plus tambahan2 lainnya seperti nori, taoge dll. Tapi polosan begini juga sudah enak sih. 2 porsi kecil + 1 porsi large harganya ¥2,500. Tapi porsi kecil aja sudah banyak loo…..Cara makannya terserah kita. Mau kuah dituang atau tidak, bebas. Dapat air es gratis untuk minum. Padahal lagi musim dingin…..brrrr

Dari sini kami sempat mampir ke toko 1 harga, namanya CanDo. Sejenis dengan Daiso, hampir semua barang harganya ¥100 + pajak ¥8. Walaupun sama2 toko ¥100, barangnya agak berbeda dengan Daiso. Tapi yang jelas bisa bikin kantong lebih hepi karena harganya 😀 😀

Malamnya kami mau diajak makan Tonkatsu yang katanya sangat direkomendasikan. Btw, tonkatsu ini awalnya daging babi tipis yang digoreng dengan tepung roti renyah. Tapi di tempat yang baru ini, dagingnya diganti dengan daging sapi. Sampai di depan restoran, ternyata antriannya panjang sekali. Jadi kami memilih makan di Sukiya, sejenis dengan Yoshinoya tapi rasanya lebih lezat (buat kami sih).

sukiya

Sukiya’s pork rice bowl with kimchi

19 Desember

Disney Sea, kami datang !!!!!! Baru sekali kami ke Disneyland, di Hongkong. Datang baru jam 12 siang, bawa anak 4 tahun yang tidur manis di stroller, jadinya ga puas banget kaaannn????

disney line.jpg

Tapi di sini saya tidak akan membahas tentang Disney Sea, karena postnya bakal kepanjangan. Post berikutnya aja yaaaa 🙂

Poin penting hari ini, kami beberes koper besar untuk dikirim ke Osaka. Gampang banget caranya. Tinggal bawa aja koper2nya ke resepsionis dan minta dikirim ke hotel yang dituju. Tunjukkan paspor, dan langsung bayar di tempat. Biaya kirim untuk 6 koper kurang dari ¥12,000. Kalau koper dikirim sebelum jam 9 pagi, waktu kirimnya cuma sekitar 24 jam saja. Jadi begitu kami tiba di hotel di Osaka, koper sudah menanti untuk dibawa ke kamar.

20 Desember

Hari ini serasa pengen pewe aja di ranjang. Badan masih pegel2 dan kedinginan sisa2 seharian di Disney Sea. Sampai hotel aja baru jam 12 malam. Jadi jam 12 siang kami masih santai2 di kamar.

Jam 1 an kami baru keluar kamar. Tujuan kali ini ke Harajuku dan (kalau bisa) Shibuya. Aslinya sih karena mau ke Daiso Harajuku yang katanya terbesar se Tokyo.

harajuku 4.jpg

di depan stasiun kereta Harajuku

harajuku-1

Daiso Harajuku yang 6 lantai sendiri

harajuku-2

crepes isi es krim menjamur banget di Tokyo & Osaka

Walaupun musim dingin, penggemar es krim di Tokyo tetap saja banyak. Khususnya Crepes isi es krim ini. Saking banyaknya pilihan sampai bingung mau yang mana. Ada 2 pilihan crepes, hot & cold. Isinya juga bisa pilih es krim, ham, sosis. Menurut kami crepes yang hot lebih enak karena kulitnya kriuk2 seperti kripik. Kalau yang cold jadi dadar biasa.

21 Desember

Waktunya beberes barang dan pindah ke Osaka naik Shinkansen.

15673048_1389957001016127_1324716071033248652_n

Shinkansen

Kata guide kami,  beli tiket Shinkansen tidak perlu jauh-jauh hari. Beli dadakan juga bisa, 2 jam sebelum berangkat. Tapi karena kami rombongan, jadi pada minta supaya bisa duduk di gerbong yang sama. Ya sudah, manut saja. Dan tiket pun sudah di tangan sejak tgl 19 Desember.

Benernya sih mau 30 orang berangkat bareng di 1 gerbong pun juga bisa banget. Karena Shinkansen tuh ada banyak, dari beberapa perusahaan gitu. Tiap 10 menit kereta baru datang. Jadi ga perlu kuatir bakal ga dapat tempat duduk gitu. Yang penting, naik dan turun kereta harus cepat karena kereta tidak akan berhenti lama di tiap stasiunnya.

Tiket Shinkansen sendiri ada 3 macam, Green class (kelas 1), Ordinary Class (kelas biasa) dan non-reserved Class (ga pake nomer kursi). Harganya beda2. Yang jelas, lebih murah beli di tempat daripada beli di Indo. Kecuali ada diskon khusus.

Dalam perjalanan ini kami tidak pakai JR Pass. Kenapa begitu? Karena sebagian besar perjalanan jauh dilakukan dengan sewa mobil, bukan naik kereta. Sedangkan JR Pass baru kerasa fungsi hematnya kalau kami banyak naik kereta JR Line, khususnya yang jarak jauh. Misalnya Tokyo-Osaka pp naik Shinkansen. Nah ini baru ngefek banget kalau pakai JR Pass. Atau misalnya, Tokyo-gunung Fuji + Tokyo-Osaka + Tokyo-Kyoto + Tokyo-Kobe. Penghematan besar2an tuh!!

15590349_1389956884349472_2457349446586811036_n

Di dalam Shinkansen, kita boleh makan & minum. Jadi beli bekal dulu di Tokyo Station. Kebetulan ada konbini yang namanya New Ways, yang jadi favorit kami karena makanannya enak2. Jualannya juga macam2, mulai dari onigiri sampai suvenir gantungan kunci & Tokyo Banana …..

15665575_1389957061016121_1786415333678847905_n

Tokyo Station

15673057_1389957011016126_8540559693691008871_n

Sambil menunggu jadwal keberangkatan kereta, kami sempat foto2 dulu di bagian depan stasiun yang bermodel bangunan eropa kuno ini. Stasiunnya besaaar…..bahkan ada Tokyo Station Hotel yang persis di sebelahnya.

Sekian dulu ceritanya….. nanti disambung lagi yah 🙂