Cerita dari seberang : Jepang (part 2 – Osaka)

21 Desember

Shinkansen yang kami naiki berhenti di Osaka Station yang tidak kalah besarnya dari Tokyo Station. Di sini pun kami dijemput mobil, demi kenyamanan para senior. Biaya transportnya sama, ¥10,000 per orang.

15621984_1389894177689076_6723137170298701525_n

baru turun dari mobil

Kami menginap di Ibis Styles, Osaka yang terletak di pusat keramaian Dotonbori. Jalan masuk ke arah hotel mirip dengan di Kuta…..kecil. Hotelnya pun tidak terlalu besar.

Setelah check-in dan menjemput koper2 besar yang sudah datang dari Tokyo, kami masuk ke kamar masing2 untuk beristirahat.

Kalau di Tokyo, kami bisa mendapatkan 7 kamar di lantai yang sama, di sini kami malah mendapatkan kamar di lantai2 yang berbeda. Kok begitu? Ya, karena kami pesan kamar Superior, yang hanya ada 1 di setiap lantai. Untung sistem lift di sini lebih sederhana, jadi kami masih bisa berpindah lantai dengan modal kartu kamar saja.

15589650_1389962631015564_526218292718013171_n

ibis styles Osaka – superior room

Kamarnya sendiri jauh lebih sederhana dibandingkan hotel di Tokyo. Padahal tarifnya lebih mahal. Kamar mandinya sempit dan terkesan kuno. Kamar superior dengan 2 ranjang ini sebetulnya bisa saja diisi 2 dewasa dan 2 anak, tapi karena anak sudah usia 11 tahun jadi dihitung dewasa dan dimasukkan ke kamar lain yang ukurannya sama tapi ranjangnya 4 single.

dotonburi-1

satu dari deretan penjual takoyaki di pinggir kanal Dotonbori

takoyaki

takoyaki

Malam ini kami jalan2 di sekeliling hotel dan mencoba Takoyaki yang terkenal itu. Antriannya lumayan panjang, untung cepat majunya. Saking terkenalnya takoyaki, ada tulisan dalam beberapa bahasa yang menyebutkan pilihan saus dan harga per porsinya. 1 piring berisi 10 takoyaki harganya ¥500. Pilihan bumbunya ada BBQ dan Soya (asin). Enak? biasa aja tuh.

img-20161225-wa0022

Dari sana kami foto di depan Glico Man, ikon Osaka yang sangat ngetop di kalangan wisatawan.

22 Desember

15590081_1391156734229487_5032412641806365614_n

jalan ke arah stasiun

Hari ini belajar lagi. Belajar naik metro.  Di dekat sini ada stasiun Namba, yang bisa dicapai dengan jalan kaki 5 menit, asal tidak nyasar. Karena stasiunnya jadi satu dengan mal bawah tanah, dan pintu keluarnya tidak hanya satu. Ada sekitar 20an pintu untuk keluar ke jalan raya. Jadi kalau salah keluar, alamat jalan lebih panjang ke hotel.

Dari Namba, kami pergi ke Umeda yang berada di tengah2 Osaka. Maunya sih makan siang bersama di lantai paling atas Lucua Dept. Store. Tapi ternyata tempat yang kami masuki adalah jajaran restoran mahal, mulai dari ¥1,500 per orang. Jadi kami pindah ke basement, karena ada tulisan food hall di papan petunjuknya. Biasanya food hall menyediakan makanan dengan harga lebih murah.

15589630_1391153637563130_7712401032904944243_n

meja makan di resto tonkatsu

Sampai di bawah kami bingung, karena hanya menemukan penjual kue2 dan snack. Wah food hall nya kok beda dari bayangan yah?? Akhirnya kami menemukan resto yang menjual tonkatsu dengan harga ¥600. Yah lumayan murah lah. Apalagi porsinya lumayan banyak.

Setelah makan, baru kami menemukan food hall yang dicari. Ternyata posisinya di bagian belakang, sedangkan tadinya kami malah jalan ke arah luar. Tempatnya mirip dengan lokasi supermarket milik Takashimaya di Ngee Ann City, Singapore. Hanya saja di sini disediakan tempat duduk, jadi ga perlu makan sambil berdiri.

23 Desember

It’s Kyoto time !!!

kyoto

Hari ini kami ke Kyoto naik mobil sewaan. Tujuan pertama adalah menonton pertunjukan Samurai dan Ninja di Toei Kyoto Studio. Tempat ini adalah semacam Universal Studios versi Jepang. Dan masih digunakan sebagai lokasi syuting film.

img_20161221_110559_1

Toei Kyoto Studio

Semua pertunjukan dalam bahasa Jepang, jadi siap2 aja ngantuk dan bosan melihatnya. Yang perhatian dengan jalan ceritanya hanya mereka yang tahu atau pernah baca tentang para samurai Jepang, khususnya Toyotomi Hideyoshi (pemimpin & pendiri Osaka Castle) dan teman2nya. Sisanya? blank!!

15697227_1391718234173337_414708254616525211_n

jalanan ke arah hutan bambu

Dari tempat ini kami menuju Arashiyama yang terkenal dengan hutan bambunya. Sayang cuaca gerimis, jadi agak mengganggu olahraga jalan kaki hari ini 😀

15589805_1391752137503280_3744734969906825896_n

hutan bambu Arashiyama

Jalannya ngga jauh, hanya sekitar 3 kilo pp dari parkiran mobil. Masalahnya di kiri-kanan jalan dipenuhi deretan toko suvenir yang sedap dipandang. Ha !! Jadi sebaiknya kami naik taksi ke hutan bambu ( ¥700) kemudian baru turun jalan kaki. Eh, pas banget waktu ke hutan bambu gerimis dan pas turunnya cuaca sudah lebih cerah hahaha ….

img_20161221_133505

pintu masuk kuil di hutan bambu

img_20161221_133725

membungkuk ala Jepang di pintu gerbang salah satu bangunan di hutan bambu

Hutan bambu Arashiyama ini bisa dicapai dengan kereta. Berhentinya pas di tengah2 kompleks pertokoan. Jadi mudah sekali kalau mau jalan2 sendiri tanpa harus sewa mobil atau ikut tur.

Dari hutan bambu, kami lanjut ke kuil Buda yang masuk salah satu peninggalan sejarah UNESCO. Namanya Kiyomizu-dera.

15672557_1391852320826595_3144264735121131977_n

img_5251

Banyak pria dan wanita berbusana khas Jepang di sini. Bisa sewa di sekeliling kuil, atau sudah dipakai sejak dari rumah. Katanya, pemakai busana tradisional dapat diskon 50% kalau naik taksi di Kyoto. Boleh juga nih idenya, demi menggalakkan budaya pemakaian kimono dan semcamnya.

higashiyama-1

Higashiyama

img_5256img_5259img_5291

Daripada keliling kuil, saya lebih tertarik mengelilingi daerah sekitar kuil yang dipenuhi dengan toko2 kecil dan kedai kopi/teh. Jalanan yang naik dan turun mengikuti kontur pegunungan dan bangunan model kuno jadi pemandangan yang menakjubkan. Serasa kembali ke masa lalu.

img_5293

Serbet imut yang hanya dijual di Kyoto

img_5295img_5269

24 Desember

Hari ini lebih nyantai, setelah kemarin seharian keliling Kyoto & ditutup dengan makan malam yakiniku di dekat hotel.

Setelah menikmati makan pagi di hotel (yang paling istimewa cuma salad khas jepang, isinya jamur es dan rumput laut basah + salmon panggang) kami jalan2 ke toko ¥108. Setelah itu kami balik hotel, karena ada janji mau ke rumah saudara, sekalian jalan2 ke pinggiran kota. Pengen juga lihat2 perkampungan di Jepang seperti apa sih…..

Jadi kami naik kereta dari stasiun Namba menggunakan Kintetsu Line. Nantinya kami akan berhenti di stasiun Mito dan jalan kaki ke apartemen. Kami sempat mendapatkan kereta yang beda dari biasanya, duduknya ber2-2 dan interiornya mirip kabin pesawat.

Sampai di Mito, kami jalan2 ke supermarket lokal. Di situ juga ada toko ¥108 dan toko baju yang semuanya lagi diskon 25% ke atas.

Kami sampai di stasiun Mito jam 6:30, dan jalan2 sudah sepi. Walaupun pengunjung supermarket ramai, tetap saja lingkungannya sepi. Dan bersih. Tidak ada satupun sampah terlihat. Tong sampah pun tidak kelihatan sama sekali.

15727157_1393274830684344_5938122549424934179_n

Makan malam rumahan ala Jepang

15741034_1393274820684345_6833639253896742546_n

Lampu2 di Midori-suji

15665604_1393274867351007_882974719824113802_n

Jepang juga bisa macet 🙂

Setelah makan malam, kami diantar pulang ke hotel naik mobil. Jarak dari apartemen ke hotel hanya sekitar 8 kilo. Sebelum sampai di hotel kami melewati Midori-suji, jalan utama untuk bisnis dan belanja di Osaka. Jalanannya menarik, karena pohon2 di pinggir jalan dipasangi lampu2. Setiap blok memasang lampu yang berbeda, sehingga suasana Natalnya jadi terasa sekali. Oh ya, ini malam Natal. Dan banyak orang keluar menikmati pemandangan jalan2 di kota. Dan kami ketemu macet seperti di Indonesia malam ini.

25 Desember

Hari ini kami ke Kobe naik mobil. Kali ini kami diantarkan tidak sebagai tamu, tapi sebagai keluarga. Hitung2 merayakan Natal ala Jepang 😀

Dari hotel ke Kobe tidak terlalu jauh….apalagi di sini jalan bebas hambatan semua. Sebagian melewati terowongan, sebagian lagi jembatan. Termasuk jembatan Akashi-Kaikyo yang bentuknya mirip dengan jembatan Golden Gate di San Fransisco.

img_5301

img_5305

Jembatan Akashi-Kaikyo

Jembatan sepanjang 3,5 km ini menghubungkan pulau Awaji dan pelabuhan Kobe. Pulau Awaji sendiri adalah sebuah pulau kecil yang menjadi titik pusat gempa Kobe di tahun 1995. Di sini kami naik ferris wheel untuk melihat pemandangan pulau dari atas. Harga tiketnya ¥2000 untuk 5 penumpang.

img_5317

jaringan jalan raya pulau Awaji dilihat dari atas

img_5330

Pulau Awaji dan Jembatan Akashi-Keikyo dilihat dari atas

Dari pulau ini kami pindah ke daratan Kobe untuk mengunjungi museum gempa, The Great Hanshin-Awaji Earthquake Memorial Museum.

img-20161225-wa0017

Berbeda dengan museum kebanyakan, di sini kami mulai dari lantai paling atas dan kemudian turun lantai demi lantai. Di paling atas kami menonton film 3D tentang gempa Kobe. Di lantai bawahnya kami bisa membaca cerita orang2 yang selamat dari gempa, cerita tentang bantuan dari pemerintah Jepang, juga bagaimana negara ini menyiapkan penduduknya menghadapi gempa berikutnya. Ada juga pengetahuan tentang membangun bangunan anti gempa dan bangunan pendukung bila telah terjadi gempa, seperti kamar mandi dari kardus/papan styrofoam, maket rumah tinggal sementara, relokasi gempa.

Di lantai 1, kami disuguhi film tentang tsunami terbesar di Jepang pada bulan Maret 2011. Diceritakan bagaimana ombak setinggi 15 meter menerjang daerah Sendai, dan menghancurkan puluhan ribu rumah. Bahkan ada sebuah kapal yang terbawa masuk ke daratan. Kapal ini sempat diajukan sebagai monumen peringatan, tapi akhirnya dibongkar oleh pemerintah karena sebagian besar penduduk lokal menolaknya.

img_20161223_151806_1

Pemandangan dari pelabuhan Kobe

Dari museum kami berpindah ke pelabuhan Kobe. Bukan pelabuhan untuk kapal barang, tapi pelabuhan kapal penumpang dan tempat rekreasi. Ada tempat belanja juga, namanya Umie. Kemudian ada deretan restoran masakan laut yang memiliki pemandangan ke arah laut.

img-20161223-wa0039

Pelabuhan Kobe dan kapal pesiar jarak pendek, Concerto

img-20161224-wa0011

Pelabuhan Kobe di waktu malam

26 Desember

Hari terakhir di Osaka !! Padahal masih banyak tempat yang belum sempat dikunjungi.

Sore ini kami berencana ke Osaka Castle. Kenapa sore? Karena kami ingin melihat efek lampu di sana.

15800477_1403991032946057_7556062339118845457_o

Sebelum ke istana Osaka, kami jalan2 dulu di area sekitar hotel. Ada Shinsaibashi-suji, sebuah jalan yang dipenuhi toko. Kalau mau seharian menyusuri jalan ini pun bisa.

Gara2 kelamaan jalan, akhirnya kami terlambat sampai di Osaka Castle. Museumnya sudah tutup, jadi kami cuma bisa menikmati bagian luarnya saja. Osaka Castle ini disebut2 anti penyusup. Terang saja…… temboknya sangat tebal, dikelilingi parit yang lebar dan airnya pendek, sehingga susah mau memanjat ke dalam. Di setiap sudut ada pos penjagaan. Gerbang masuknya juga sangat tebal.

osaka-castle

Gerbang masuk kompleks Osaka Castle

Untuk mencapai Osaka Castle jalannya lumayan jauh. Kami harus melewati 3 gerbang besar sebelumnya. Itupun kami harus melewati jalan tercepat supaya tidak kemalaman sampai di Castle.

img_20161224_170710

Kapsul waktu dan Osaka Castle di belakangnya

Malam terakhir di Osaka ditutup dengan makan ramen babi di restoran yang ada naga raksasa di bagian atasnya. Belinya pakai mesin, harganya ¥600 semangkuk. Di sepanjang jalan ada beberapa restoran ini. Ada yang menyediakan tempat duduk, ada yang harus berdiri. Tinggal pilih saja mana yang dimaui. Mereka juga menyediakan air minum dan nasi putih gratis. Jangan lupa bereskan meja dan kembalikan baki & mangkuk ke penjual. Di sini hampir semua tempat makan mewajibkan pembeli untuk beres2 sendiri.

27 Desember

Waktunya pulang ke Indonesia. Kali ini kami naik bus kecil dengan tarif ¥10,000. Waktu meninggalkan hotel cuaca hujan dan masih gelap. Baru jam 6 pagi. Untung saja kami tidak memilih naik kereta ke bandara. Walaupun sebetulnya ada kereta ekspress dari stasiun Namba langsung ke bandara Kansai.

Bahkan sampai bandara pun hujan masih turun, ditambah angin. Matahari juga belum muncul. Dan counter untuk check-in belum buka. Banyak sekali rombongan wisatawan dari Cina yang juga akan pulang ke negara mereka.

kansai

Bandara Kansai dengan latar belakang jembatan menuju Osaka

Bandara Kansai ini dibangun di atas pulau reklamasi. Teknologi pembangunannya sudah menggunakan sistem anti gempa dan anti tsunami. Proses pembuatannya sampai masuk ke channel TV National Geographic dan Discovery. 

Berbeda dengan bandara Changi di Singapura dan Chek Lap Kok di Hong Kong, bandara Kansai termasuk sepi dan luas. Tidak banyak toko yang ada di sini. Yah mirip lah dengan bandara Juanda di Surabaya.

Selamat berpisah, Osaka. Semoga kita bertemu lagi di waktu yang akan datang 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s