Cerita dari seberang : Jepang (part 2 – Osaka)

21 Desember

Shinkansen yang kami naiki berhenti di Osaka Station yang tidak kalah besarnya dari Tokyo Station. Di sini pun kami dijemput mobil, demi kenyamanan para senior. Biaya transportnya sama, ¥10,000 per orang.

15621984_1389894177689076_6723137170298701525_n

baru turun dari mobil

Kami menginap di Ibis Styles, Osaka yang terletak di pusat keramaian Dotonbori. Jalan masuk ke arah hotel mirip dengan di Kuta…..kecil. Hotelnya pun tidak terlalu besar.

Setelah check-in dan menjemput koper2 besar yang sudah datang dari Tokyo, kami masuk ke kamar masing2 untuk beristirahat.

Kalau di Tokyo, kami bisa mendapatkan 7 kamar di lantai yang sama, di sini kami malah mendapatkan kamar di lantai2 yang berbeda. Kok begitu? Ya, karena kami pesan kamar Superior, yang hanya ada 1 di setiap lantai. Untung sistem lift di sini lebih sederhana, jadi kami masih bisa berpindah lantai dengan modal kartu kamar saja.

15589650_1389962631015564_526218292718013171_n

ibis styles Osaka – superior room

Kamarnya sendiri jauh lebih sederhana dibandingkan hotel di Tokyo. Padahal tarifnya lebih mahal. Kamar mandinya sempit dan terkesan kuno. Kamar superior dengan 2 ranjang ini sebetulnya bisa saja diisi 2 dewasa dan 2 anak, tapi karena anak sudah usia 11 tahun jadi dihitung dewasa dan dimasukkan ke kamar lain yang ukurannya sama tapi ranjangnya 4 single.

dotonburi-1

satu dari deretan penjual takoyaki di pinggir kanal Dotonbori

takoyaki

takoyaki

Malam ini kami jalan2 di sekeliling hotel dan mencoba Takoyaki yang terkenal itu. Antriannya lumayan panjang, untung cepat majunya. Saking terkenalnya takoyaki, ada tulisan dalam beberapa bahasa yang menyebutkan pilihan saus dan harga per porsinya. 1 piring berisi 10 takoyaki harganya ¥500. Pilihan bumbunya ada BBQ dan Soya (asin). Enak? biasa aja tuh.

img-20161225-wa0022

Dari sana kami foto di depan Glico Man, ikon Osaka yang sangat ngetop di kalangan wisatawan.

22 Desember

15590081_1391156734229487_5032412641806365614_n

jalan ke arah stasiun

Hari ini belajar lagi. Belajar naik metro.  Di dekat sini ada stasiun Namba, yang bisa dicapai dengan jalan kaki 5 menit, asal tidak nyasar. Karena stasiunnya jadi satu dengan mal bawah tanah, dan pintu keluarnya tidak hanya satu. Ada sekitar 20an pintu untuk keluar ke jalan raya. Jadi kalau salah keluar, alamat jalan lebih panjang ke hotel.

Dari Namba, kami pergi ke Umeda yang berada di tengah2 Osaka. Maunya sih makan siang bersama di lantai paling atas Lucua Dept. Store. Tapi ternyata tempat yang kami masuki adalah jajaran restoran mahal, mulai dari ¥1,500 per orang. Jadi kami pindah ke basement, karena ada tulisan food hall di papan petunjuknya. Biasanya food hall menyediakan makanan dengan harga lebih murah.

15589630_1391153637563130_7712401032904944243_n

meja makan di resto tonkatsu

Sampai di bawah kami bingung, karena hanya menemukan penjual kue2 dan snack. Wah food hall nya kok beda dari bayangan yah?? Akhirnya kami menemukan resto yang menjual tonkatsu dengan harga ¥600. Yah lumayan murah lah. Apalagi porsinya lumayan banyak.

Setelah makan, baru kami menemukan food hall yang dicari. Ternyata posisinya di bagian belakang, sedangkan tadinya kami malah jalan ke arah luar. Tempatnya mirip dengan lokasi supermarket milik Takashimaya di Ngee Ann City, Singapore. Hanya saja di sini disediakan tempat duduk, jadi ga perlu makan sambil berdiri.

23 Desember

It’s Kyoto time !!!

kyoto

Hari ini kami ke Kyoto naik mobil sewaan. Tujuan pertama adalah menonton pertunjukan Samurai dan Ninja di Toei Kyoto Studio. Tempat ini adalah semacam Universal Studios versi Jepang. Dan masih digunakan sebagai lokasi syuting film.

img_20161221_110559_1

Toei Kyoto Studio

Semua pertunjukan dalam bahasa Jepang, jadi siap2 aja ngantuk dan bosan melihatnya. Yang perhatian dengan jalan ceritanya hanya mereka yang tahu atau pernah baca tentang para samurai Jepang, khususnya Toyotomi Hideyoshi (pemimpin & pendiri Osaka Castle) dan teman2nya. Sisanya? blank!!

15697227_1391718234173337_414708254616525211_n

jalanan ke arah hutan bambu

Dari tempat ini kami menuju Arashiyama yang terkenal dengan hutan bambunya. Sayang cuaca gerimis, jadi agak mengganggu olahraga jalan kaki hari ini 😀

15589805_1391752137503280_3744734969906825896_n

hutan bambu Arashiyama

Jalannya ngga jauh, hanya sekitar 3 kilo pp dari parkiran mobil. Masalahnya di kiri-kanan jalan dipenuhi deretan toko suvenir yang sedap dipandang. Ha !! Jadi sebaiknya kami naik taksi ke hutan bambu ( ¥700) kemudian baru turun jalan kaki. Eh, pas banget waktu ke hutan bambu gerimis dan pas turunnya cuaca sudah lebih cerah hahaha ….

img_20161221_133505

pintu masuk kuil di hutan bambu

img_20161221_133725

membungkuk ala Jepang di pintu gerbang salah satu bangunan di hutan bambu

Hutan bambu Arashiyama ini bisa dicapai dengan kereta. Berhentinya pas di tengah2 kompleks pertokoan. Jadi mudah sekali kalau mau jalan2 sendiri tanpa harus sewa mobil atau ikut tur.

Dari hutan bambu, kami lanjut ke kuil Buda yang masuk salah satu peninggalan sejarah UNESCO. Namanya Kiyomizu-dera.

15672557_1391852320826595_3144264735121131977_n

img_5251

Banyak pria dan wanita berbusana khas Jepang di sini. Bisa sewa di sekeliling kuil, atau sudah dipakai sejak dari rumah. Katanya, pemakai busana tradisional dapat diskon 50% kalau naik taksi di Kyoto. Boleh juga nih idenya, demi menggalakkan budaya pemakaian kimono dan semcamnya.

higashiyama-1

Higashiyama

img_5256img_5259img_5291

Daripada keliling kuil, saya lebih tertarik mengelilingi daerah sekitar kuil yang dipenuhi dengan toko2 kecil dan kedai kopi/teh. Jalanan yang naik dan turun mengikuti kontur pegunungan dan bangunan model kuno jadi pemandangan yang menakjubkan. Serasa kembali ke masa lalu.

img_5293

Serbet imut yang hanya dijual di Kyoto

img_5295img_5269

24 Desember

Hari ini lebih nyantai, setelah kemarin seharian keliling Kyoto & ditutup dengan makan malam yakiniku di dekat hotel.

Setelah menikmati makan pagi di hotel (yang paling istimewa cuma salad khas jepang, isinya jamur es dan rumput laut basah + salmon panggang) kami jalan2 ke toko ¥108. Setelah itu kami balik hotel, karena ada janji mau ke rumah saudara, sekalian jalan2 ke pinggiran kota. Pengen juga lihat2 perkampungan di Jepang seperti apa sih…..

Jadi kami naik kereta dari stasiun Namba menggunakan Kintetsu Line. Nantinya kami akan berhenti di stasiun Mito dan jalan kaki ke apartemen. Kami sempat mendapatkan kereta yang beda dari biasanya, duduknya ber2-2 dan interiornya mirip kabin pesawat.

Sampai di Mito, kami jalan2 ke supermarket lokal. Di situ juga ada toko ¥108 dan toko baju yang semuanya lagi diskon 25% ke atas.

Kami sampai di stasiun Mito jam 6:30, dan jalan2 sudah sepi. Walaupun pengunjung supermarket ramai, tetap saja lingkungannya sepi. Dan bersih. Tidak ada satupun sampah terlihat. Tong sampah pun tidak kelihatan sama sekali.

15727157_1393274830684344_5938122549424934179_n

Makan malam rumahan ala Jepang

15741034_1393274820684345_6833639253896742546_n

Lampu2 di Midori-suji

15665604_1393274867351007_882974719824113802_n

Jepang juga bisa macet 🙂

Setelah makan malam, kami diantar pulang ke hotel naik mobil. Jarak dari apartemen ke hotel hanya sekitar 8 kilo. Sebelum sampai di hotel kami melewati Midori-suji, jalan utama untuk bisnis dan belanja di Osaka. Jalanannya menarik, karena pohon2 di pinggir jalan dipasangi lampu2. Setiap blok memasang lampu yang berbeda, sehingga suasana Natalnya jadi terasa sekali. Oh ya, ini malam Natal. Dan banyak orang keluar menikmati pemandangan jalan2 di kota. Dan kami ketemu macet seperti di Indonesia malam ini.

25 Desember

Hari ini kami ke Kobe naik mobil. Kali ini kami diantarkan tidak sebagai tamu, tapi sebagai keluarga. Hitung2 merayakan Natal ala Jepang 😀

Dari hotel ke Kobe tidak terlalu jauh….apalagi di sini jalan bebas hambatan semua. Sebagian melewati terowongan, sebagian lagi jembatan. Termasuk jembatan Akashi-Kaikyo yang bentuknya mirip dengan jembatan Golden Gate di San Fransisco.

img_5301

img_5305

Jembatan Akashi-Kaikyo

Jembatan sepanjang 3,5 km ini menghubungkan pulau Awaji dan pelabuhan Kobe. Pulau Awaji sendiri adalah sebuah pulau kecil yang menjadi titik pusat gempa Kobe di tahun 1995. Di sini kami naik ferris wheel untuk melihat pemandangan pulau dari atas. Harga tiketnya ¥2000 untuk 5 penumpang.

img_5317

jaringan jalan raya pulau Awaji dilihat dari atas

img_5330

Pulau Awaji dan Jembatan Akashi-Keikyo dilihat dari atas

Dari pulau ini kami pindah ke daratan Kobe untuk mengunjungi museum gempa, The Great Hanshin-Awaji Earthquake Memorial Museum.

img-20161225-wa0017

Berbeda dengan museum kebanyakan, di sini kami mulai dari lantai paling atas dan kemudian turun lantai demi lantai. Di paling atas kami menonton film 3D tentang gempa Kobe. Di lantai bawahnya kami bisa membaca cerita orang2 yang selamat dari gempa, cerita tentang bantuan dari pemerintah Jepang, juga bagaimana negara ini menyiapkan penduduknya menghadapi gempa berikutnya. Ada juga pengetahuan tentang membangun bangunan anti gempa dan bangunan pendukung bila telah terjadi gempa, seperti kamar mandi dari kardus/papan styrofoam, maket rumah tinggal sementara, relokasi gempa.

Di lantai 1, kami disuguhi film tentang tsunami terbesar di Jepang pada bulan Maret 2011. Diceritakan bagaimana ombak setinggi 15 meter menerjang daerah Sendai, dan menghancurkan puluhan ribu rumah. Bahkan ada sebuah kapal yang terbawa masuk ke daratan. Kapal ini sempat diajukan sebagai monumen peringatan, tapi akhirnya dibongkar oleh pemerintah karena sebagian besar penduduk lokal menolaknya.

img_20161223_151806_1

Pemandangan dari pelabuhan Kobe

Dari museum kami berpindah ke pelabuhan Kobe. Bukan pelabuhan untuk kapal barang, tapi pelabuhan kapal penumpang dan tempat rekreasi. Ada tempat belanja juga, namanya Umie. Kemudian ada deretan restoran masakan laut yang memiliki pemandangan ke arah laut.

img-20161223-wa0039

Pelabuhan Kobe dan kapal pesiar jarak pendek, Concerto

img-20161224-wa0011

Pelabuhan Kobe di waktu malam

26 Desember

Hari terakhir di Osaka !! Padahal masih banyak tempat yang belum sempat dikunjungi.

Sore ini kami berencana ke Osaka Castle. Kenapa sore? Karena kami ingin melihat efek lampu di sana.

15800477_1403991032946057_7556062339118845457_o

Sebelum ke istana Osaka, kami jalan2 dulu di area sekitar hotel. Ada Shinsaibashi-suji, sebuah jalan yang dipenuhi toko. Kalau mau seharian menyusuri jalan ini pun bisa.

Gara2 kelamaan jalan, akhirnya kami terlambat sampai di Osaka Castle. Museumnya sudah tutup, jadi kami cuma bisa menikmati bagian luarnya saja. Osaka Castle ini disebut2 anti penyusup. Terang saja…… temboknya sangat tebal, dikelilingi parit yang lebar dan airnya pendek, sehingga susah mau memanjat ke dalam. Di setiap sudut ada pos penjagaan. Gerbang masuknya juga sangat tebal.

osaka-castle

Gerbang masuk kompleks Osaka Castle

Untuk mencapai Osaka Castle jalannya lumayan jauh. Kami harus melewati 3 gerbang besar sebelumnya. Itupun kami harus melewati jalan tercepat supaya tidak kemalaman sampai di Castle.

img_20161224_170710

Kapsul waktu dan Osaka Castle di belakangnya

Malam terakhir di Osaka ditutup dengan makan ramen babi di restoran yang ada naga raksasa di bagian atasnya. Belinya pakai mesin, harganya ¥600 semangkuk. Di sepanjang jalan ada beberapa restoran ini. Ada yang menyediakan tempat duduk, ada yang harus berdiri. Tinggal pilih saja mana yang dimaui. Mereka juga menyediakan air minum dan nasi putih gratis. Jangan lupa bereskan meja dan kembalikan baki & mangkuk ke penjual. Di sini hampir semua tempat makan mewajibkan pembeli untuk beres2 sendiri.

27 Desember

Waktunya pulang ke Indonesia. Kali ini kami naik bus kecil dengan tarif ¥10,000. Waktu meninggalkan hotel cuaca hujan dan masih gelap. Baru jam 6 pagi. Untung saja kami tidak memilih naik kereta ke bandara. Walaupun sebetulnya ada kereta ekspress dari stasiun Namba langsung ke bandara Kansai.

Bahkan sampai bandara pun hujan masih turun, ditambah angin. Matahari juga belum muncul. Dan counter untuk check-in belum buka. Banyak sekali rombongan wisatawan dari Cina yang juga akan pulang ke negara mereka.

kansai

Bandara Kansai dengan latar belakang jembatan menuju Osaka

Bandara Kansai ini dibangun di atas pulau reklamasi. Teknologi pembangunannya sudah menggunakan sistem anti gempa dan anti tsunami. Proses pembuatannya sampai masuk ke channel TV National Geographic dan Discovery. 

Berbeda dengan bandara Changi di Singapura dan Chek Lap Kok di Hong Kong, bandara Kansai termasuk sepi dan luas. Tidak banyak toko yang ada di sini. Yah mirip lah dengan bandara Juanda di Surabaya.

Selamat berpisah, Osaka. Semoga kita bertemu lagi di waktu yang akan datang 🙂

Cerita dari Seberang : Jepang (part 1 – Tokyo)

Seri baru ini punya banyak fungsi. Catatan harian, oleh2 tanpa biaya, dan tips untuk para petualang di luar sana. Di sini saya mau berbagi hal2 yang saya temui selama bepergian ke suatu tempat. Semoga semakin banyak lagi yang bisa saya bagikan (yang artinya semakin banyak negara yang saya kunjungi hahaha).

Berburu tiket perjalanan ke Jepang ini dimulai sejak awal tahun 2016, tepatnya bulan Februari. Kebetulan ada promosi tiket murah Cathay Pacific seharga IDR 5 juta pp. Dengan tanggal2 tertentu untuk berangkat dan pulang (ada blackout date untuk berangkatnya dan full booked untuk pulangnya) akhirnya kami berhasil mendapatkan tiket untuk 15 orang (keluarga besar!!) di tanggal 14 – 27 Desember 2016. Datang melalui bandara Narita, Tokyo dan pulang melalui bandara Kansai, Osaka. Dan jam penerbangan yang menyedihkan :

Berangkat :

Surabaya – Hong Kong 8:20 pagi

transit di Hong Kong

Hong Kong – Tokyo 01:50 dini hari

Pulang :

Osaka – Hong Kong 9:20 pagi

Hong Kong – Surabaya 1:30 siang

Perjalanan ke Jepang ini bakal panjang dan lebar kalau diceritakan dalam 1 blogpost. Jadi ceritanya nyicil2 yah. Biar yang baca juga ga bosen2 amat.

15 Desember

Sampai bandara Narita, proses imigrasi dan ambil koper kami lalui dengan cepat. Paling2 1,5 jam aja udah selesai semuanya.

narita

Hari ini kami  dijemput mobil ke hotel. Tarif mobilnya ¥10,000 per orang. 1 mobil cukup untuk 7 orang + 7 koper besar & 7 koper kabin & bawaan2 lainnya. Pesannya lewat sepupu yang kebetulan kerja jadi guide di Jepang. Lumayan, ketemu orang sebangsa di negara yang tidak fasih bahasa Inggrisnya ini.

Sebetulnya kalau mau lebih murah, naik Limousine Bus (ada jam2nya) yang berhenti langsung di hotel kami. Atau naik kereta (setiap 5-10 menit berangkat) juga bisa. Tiket bis & kereta bisa langsung beli di bandara juga. Tapi agak susah juga buat kami karena bawa koper besar2 dan ada orangtua.  Apalagi ini pertama kalinya ke Jepang….jadi kami belum paham dengan lokasi juga. Takutnya ntar ketemu tangga atau harus angkat2 koper besar gitu.

Selama di Tokyo kami menginap di Hotel Royal Park Shiodome. Bintang 4, lokasi strategis banget. Ada 2 stasiun Metro di dekat hotel, Shimbashi dan Shiodome. Ada Family Mart (konbini,  semacam Indomaret/Alfamart) dan toko obat/kosmetik alias drugstore entah namanya apa (aksara Jepang doang). Tempat makan juga banyaaak….mulai yang murah2 di warung2 sempit & sesak sampai yang mahal2 di Caretta Shiodome.

room-shiodome

Kamar hotel

bathroom-shiodome

Kamar mandi dengan toilet canggihnya

Hotel ini unik banget buat kami. Karena lobi dan resepsionis ada di lantai 24. Sedangkan yang dibilang basement alias ruang bawah tanah, nyatanya malah outdoor.

basement-shiodome

yang ada pohon Natalnya itu basementnya hotel

Check-in baru jam 15:00. Jadi koper dititipkan & kami jalan2 dulu. Makan siang pertama di Yoshinoya dan kami harus susah payah berjuang supaya bisa take-away.

pork-yoshinoya

Pork Rice Bowl ala Yoshinoya

Malamnya diundang makan malam di daerah Asakusa, sambil belajar naik Metro. Sebagian besar stasiun Metro di Jepang sudah cukup tua, sekitar 60 tahunan. Jadi jarang ada tangga berjalan. Cari lift juga tidak gampang. Siap2 kaki pegal deh pokoknya.

Beli tiket di mesin ternyata cukup mudah, karena sudah ada pilihan bahasanya. Tiket Metro sendiri cuma berupa karton kecil, dengan tulisan entah apa. Cara masuk dan keluarnya mirip dengan di Singapura dan Hongkong. Keretanya sangat bersih dan sepi. Dudukannya dilapis beludru. Mungkin supaya waktu musim dingin orang lebih nyaman duduknya yah. Oya, HP harus disilent atau vibrate kalau di dalam kereta. Ngobrol pun ga boleh kenceng2 suaranya. Kecuali pengen dipelototi atau dimarahin penduduk lokal hihihi.

dinner-15-dec

Foto sama tuan rumah, orang Indonesia semua 😀 😀

Makan malam kali ini khas Jepang banget. Dimasak di kompor portable dan menggunakan panci tanah liat, langsung di atas meja makan. Kuah kaldunya cuma rumput laut yang dimasak dengan air. Isiannya bisa pilih, mulai macam2 jamur,macam2 sayuran segar dan macam2 daging. Memang kualitas bahan menentukan kualitas rasa. Apalagi dimakan hangat2 di tempat yang dingin begitu, jadi nambah2 terus deh. Sampai lupa ga makan nasi sedikitpun !!

16 Desember

Rute jalan kali ini ke Ginza, daerah toko mahal2. Tapi yang kami cari adalah Uniqlo. Perlu beli jaket dan HeatTech nih. Uniqlo ini terkenal dengan baju2 terjangkau dan berkualitas. 2 produknya yang mendunia adalah Ultra Light Down Jacket dan HeatTech. ULD Jacket paling enak buat wisatawan, karena bisa disimpan di kantongnya. Sedangkan HeatTech (kaos lengan panjang/pendek/leher kura2, legging, stoking) bisa menahan panas tubuh kita, sehingga kita merasa hangat.

Sebelum berangkat ke Ginza, kami melewati stasiun Shimbashi karena mau beli kartu kereta. Belinya gampang…tinggal cari mesin PASMO/SUICA, pilih bahasa Inggris, cari pilihan NEW CARD. Masukkan uang kertas ¥ 1,000 dan tekan YES. Kartu akan keluar dari mesin. Nominal yang diterima bisa sampai ¥ 10,000 karena kartu ini juga bisa dipakai sebagai kartu debit di banyak tempat, khususnya konbini dan vending machine. Pilihan kartu kereta di Tokyo memang ada 2, Pasmo dan Suica. Keduanya sama persis fungsinya, cuma beda perusahaan saja. Dan ke2 kartu ini juga bisa dipakai di kota2 besar lain di Jepang, termasuk Osaka. Padahal di Osaka sendiri ada kartu kereta yang namanya ICOCA.

Di Ginza, kami juga pergi ke BIC Camera untuk beli kartu SIM. Waktu di bandara kami sempat ambil Pocket Wifi (¥ 11,000 untuk 12 hari dan 7 Gb) dan 1 kartu SIM (¥ 3,450 untuk 30 hari, paket data 300Mb/hari). Tapi karena kami rombongan besar (16 orang) jadi butuh kartu SIM lagi.

Di BIC Camera, kami dapat kartu SIM dengan harga ¥ 2,850 dan paket data 1 Gb untuk 30 hari. Di sini ada jaminan untuk bayar setelah kartu SIM jalan dengan baik. Jadi kalau kartu SIM ga bisa jalan, pembeli ga perlu bayar. Karena pemerintah Jepang memang membatasi jumlah pengguna kartu SIM. Kartu bernomor selular cuma bisa dipake oleh penduduk. Sedangkan wisatawan cuma boleh pake paket datanya saja. Dan karena sebagian besar penduduk pada pake IPhone, pemakai HP merk Cina seperti kami jadi kesusahan mau pakai kartu SIM lokal. Setting kartunya harus dirubah satu demi satu supaya paket data bisa digunakan.

caretta

di Caretta Shiodome

Balik ke Hotel, kami mampir ke Caretta Shiodome. Di sana lagi ada Christmas Lights Illuminations. Jadi semacam pertunjukan pohon2 berlampu dan musik. Ada ceritanya juga, tapi dalam bahasa Jepang. Ya sudahlah, menikmati musik dan lampu2nya saja. Hawa dingin + angin lumayan kencang di lokasi membuat kami memilih untuk masuk ke gedung Caretta saja. Ada beberapa toko, tapi sebagian besar penyewanya restoran. Tinggal pilih, mau masakan Jepang, Meksiko atau Eropa.

17 Desember

Sewa mobil lagi ke Gunung Fuji. Tepatnya ke danau Hakone dan Gotemba Outlet. Harga sewanya ¥130,000 untuk full-day tour untuk 7-9 orang. Kenapa memilih mobil padahal rombongan kami cukup besar?

Sewa bis pariwisata di Jepang banyak aturannya! Tiap bis yang mau berangkat tur harus melaporkan rute perjalanan + jam2nya secara detil ke dinas yang terkait. Dan jadwal ini bakal dipantau secara ketat. Meleng beberapa menit saja sudah bisa mendatangkan sanksi keras. Padahal orang Indo mana bisa diatur seketat itu? Dikasi waktu belanja 1 jam, jadinya 3 jam……hahahahaha

Di danau Hakone kami berlayar dengan menggunakan kapal model kuno dari ujung ke ujung danau. Tapi karena angin di luar lumayan kencang, kami memilih masuk ke bagian dalam dan duduk2 di sana.hakone

hakone-2

ada bagian kelas 1

hakone-3

tempat duduk kami

Dari sini kami lanjut ke Gotemba outlet. Yang hobi belanja bakal suka nih di sini. Karena harganya lumayan miring. Apalagi barangnya belum tentu ada di Indonesia. Tempatnya sangat luas….bisa seharian sendiri menjelajahinya. Dan memang banyak orang yang datang ke sini sekedar untuk rekreasi saja.

gotemba-3

di jembatan parkiran Gotemba, foto di depan gunung Fuji

gotemba1

dingin2 makan es krim

gotemba-2

 Harga makanan di tempat ini cukup mahal, di atas ¥900. Untungnya ada Mc Donald’s yang lebih terjangkau. Paket burger, kentang dan minum harganya ¥700an.

mcd

lego-gotemba

Outlet LEGO di Gotemba

 18 Desember

Saatnya jalan2 ke Shinjuku.

shinjuku

Takashimaya Times Square, Shinjuku

 Di sini ada Tokyu Hands 8 lantai. Jualannya segala macam barang berkualitas & unik. Harganya juga lumayan menguras dompet. Tapi karena alat tulisnya lengkap, jadi masuk aja deh.

udon-shinjukuMakan siang di dekat Takashimaya. Nama tempatnya sih Tsukemen Yasube. Tapi karena ditulis dalam aksara Jepang, entah kapan bisa makan ini lagi. Tempatnya ya seperti di foto atas itu. Kiri dapur, tengah meja makan, kanan sudah dinding tempat gantungin jaket/tas. Ruangan sempit sesak, makan juga harus cepat. Tidak ada waktu untuk nongkrong santai di sini.

udon-shinjuku-2

Tampilan udon ukuran S dan kuahnya

Makanan dipesan melalui mesin. Tinggal pilih porsinya, plus tambahan2 lainnya seperti nori, taoge dll. Tapi polosan begini juga sudah enak sih. 2 porsi kecil + 1 porsi large harganya ¥2,500. Tapi porsi kecil aja sudah banyak loo…..Cara makannya terserah kita. Mau kuah dituang atau tidak, bebas. Dapat air es gratis untuk minum. Padahal lagi musim dingin…..brrrr

Dari sini kami sempat mampir ke toko 1 harga, namanya CanDo. Sejenis dengan Daiso, hampir semua barang harganya ¥100 + pajak ¥8. Walaupun sama2 toko ¥100, barangnya agak berbeda dengan Daiso. Tapi yang jelas bisa bikin kantong lebih hepi karena harganya 😀 😀

Malamnya kami mau diajak makan Tonkatsu yang katanya sangat direkomendasikan. Btw, tonkatsu ini awalnya daging babi tipis yang digoreng dengan tepung roti renyah. Tapi di tempat yang baru ini, dagingnya diganti dengan daging sapi. Sampai di depan restoran, ternyata antriannya panjang sekali. Jadi kami memilih makan di Sukiya, sejenis dengan Yoshinoya tapi rasanya lebih lezat (buat kami sih).

sukiya

Sukiya’s pork rice bowl with kimchi

19 Desember

Disney Sea, kami datang !!!!!! Baru sekali kami ke Disneyland, di Hongkong. Datang baru jam 12 siang, bawa anak 4 tahun yang tidur manis di stroller, jadinya ga puas banget kaaannn????

disney line.jpg

Tapi di sini saya tidak akan membahas tentang Disney Sea, karena postnya bakal kepanjangan. Post berikutnya aja yaaaa 🙂

Poin penting hari ini, kami beberes koper besar untuk dikirim ke Osaka. Gampang banget caranya. Tinggal bawa aja koper2nya ke resepsionis dan minta dikirim ke hotel yang dituju. Tunjukkan paspor, dan langsung bayar di tempat. Biaya kirim untuk 6 koper kurang dari ¥12,000. Kalau koper dikirim sebelum jam 9 pagi, waktu kirimnya cuma sekitar 24 jam saja. Jadi begitu kami tiba di hotel di Osaka, koper sudah menanti untuk dibawa ke kamar.

20 Desember

Hari ini serasa pengen pewe aja di ranjang. Badan masih pegel2 dan kedinginan sisa2 seharian di Disney Sea. Sampai hotel aja baru jam 12 malam. Jadi jam 12 siang kami masih santai2 di kamar.

Jam 1 an kami baru keluar kamar. Tujuan kali ini ke Harajuku dan (kalau bisa) Shibuya. Aslinya sih karena mau ke Daiso Harajuku yang katanya terbesar se Tokyo.

harajuku 4.jpg

di depan stasiun kereta Harajuku

harajuku-1

Daiso Harajuku yang 6 lantai sendiri

harajuku-2

crepes isi es krim menjamur banget di Tokyo & Osaka

Walaupun musim dingin, penggemar es krim di Tokyo tetap saja banyak. Khususnya Crepes isi es krim ini. Saking banyaknya pilihan sampai bingung mau yang mana. Ada 2 pilihan crepes, hot & cold. Isinya juga bisa pilih es krim, ham, sosis. Menurut kami crepes yang hot lebih enak karena kulitnya kriuk2 seperti kripik. Kalau yang cold jadi dadar biasa.

21 Desember

Waktunya beberes barang dan pindah ke Osaka naik Shinkansen.

15673048_1389957001016127_1324716071033248652_n

Shinkansen

Kata guide kami,  beli tiket Shinkansen tidak perlu jauh-jauh hari. Beli dadakan juga bisa, 2 jam sebelum berangkat. Tapi karena kami rombongan, jadi pada minta supaya bisa duduk di gerbong yang sama. Ya sudah, manut saja. Dan tiket pun sudah di tangan sejak tgl 19 Desember.

Benernya sih mau 30 orang berangkat bareng di 1 gerbong pun juga bisa banget. Karena Shinkansen tuh ada banyak, dari beberapa perusahaan gitu. Tiap 10 menit kereta baru datang. Jadi ga perlu kuatir bakal ga dapat tempat duduk gitu. Yang penting, naik dan turun kereta harus cepat karena kereta tidak akan berhenti lama di tiap stasiunnya.

Tiket Shinkansen sendiri ada 3 macam, Green class (kelas 1), Ordinary Class (kelas biasa) dan non-reserved Class (ga pake nomer kursi). Harganya beda2. Yang jelas, lebih murah beli di tempat daripada beli di Indo. Kecuali ada diskon khusus.

Dalam perjalanan ini kami tidak pakai JR Pass. Kenapa begitu? Karena sebagian besar perjalanan jauh dilakukan dengan sewa mobil, bukan naik kereta. Sedangkan JR Pass baru kerasa fungsi hematnya kalau kami banyak naik kereta JR Line, khususnya yang jarak jauh. Misalnya Tokyo-Osaka pp naik Shinkansen. Nah ini baru ngefek banget kalau pakai JR Pass. Atau misalnya, Tokyo-gunung Fuji + Tokyo-Osaka + Tokyo-Kyoto + Tokyo-Kobe. Penghematan besar2an tuh!!

15590349_1389956884349472_2457349446586811036_n

Di dalam Shinkansen, kita boleh makan & minum. Jadi beli bekal dulu di Tokyo Station. Kebetulan ada konbini yang namanya New Ways, yang jadi favorit kami karena makanannya enak2. Jualannya juga macam2, mulai dari onigiri sampai suvenir gantungan kunci & Tokyo Banana …..

15665575_1389957061016121_1786415333678847905_n

Tokyo Station

15673057_1389957011016126_8540559693691008871_n

Sambil menunggu jadwal keberangkatan kereta, kami sempat foto2 dulu di bagian depan stasiun yang bermodel bangunan eropa kuno ini. Stasiunnya besaaar…..bahkan ada Tokyo Station Hotel yang persis di sebelahnya.

Sekian dulu ceritanya….. nanti disambung lagi yah 🙂

Ulasan : Pop Hotel Kuta Beach & Pop Hardy’s Singaraja

Kamar di Pop! Hotel kurang lebih punya pengaturan yang sama. Sama2 kecil dan efisien, dengan kamar mandi ala pesawat yang cukup futuristis. Iklannya juga jujur mengatakan bahwa kamarnya cukup untuk ber3……minus barang bawaan. Dan orang ke 3 yang ada di kamar harus bawa selimut sendiri untuk melindungi diri dari dinginnya AC.

Dengan harga kurang dari 350 ribu per malam, Pop! Hotel cocok sekali buat kami yang hanya butuh tempat tidur dan menghabiskan sisa waktunya di jalan (dan di hotel tetangga). Makan pagi yang porsinya kecil pun cukup untuk sekedar mengisi perut, sebelum berburu kuliner Bali yang jauuuh lebih menggiurkan hahahahaha

Pop 3

Yang perlu diacungi jempol dari POP! Hotel Kuta Beach adalah kehadiran kolam renang yang cukup panjang (sekitar 15 meter). Jarang sekali ada hotel budget yang menyediakan fasilitas wah ini. Jadi saat kami bosan berkelana di luar hotel, langsung saja cari kursi santai, dan duduk menikmati sore hari sambil mengawasi anak berenang. Relaksasi dengan biaya minim 😀

Sedangkan di POP! Hardy’s Singaraja, kami menemukan kejutan ekstra lainnya : pantai tepat di depan hotel !!!!

Hotel murah, fasilitas kolam renang, persis di depan pantai ??????? TOP banget deh !!!! Cocok sekali untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Jawa. Untuk wisata melihat lumba2 berenang di laut lepas pun bisa dipesan dari hotel tanpa perlu pergi ke pantai Lovina.

Sayangnya menu makan pagi di POP! Hardy’s Singaraja ini sangat minim. Hanya tersedia roti tawar dan selai, serta nasi bungkus porsi anak2. Tapi kami bisa jalan kaki ke luar hotel dan belanja makanan di pasar dekat situ. Satu porsi nasi bungkus seharga 15 ribu cukup menyejukkan hati setelah makan nasi babi guling seharga 40 ribuan di daerah kuta/seminyak/ubud 😀

Harga hotel yang tidak mencekik dompet juga membuat kami bisa lebih fleksibel mengatur jadwal perjalanan pulang. Pesan 2 malam untuk dipakai selama 1,5 hari menginap tetap cukup terjangkau demi kenyamanan perjalanan di malam hari. Hidup POP! Hotel !!!!

Terima kasih telah mengikuti kami di thehousewecalledours 🙂 Tuhan Yesus memberkati. 

 

Ulasan : Crowne Plaza, Bandung

Sudah lamaaaa sekali saya tidak menulis. Ide di kepala sebetulnya sudah banyak sekali. Tapi entah kenapa, setiap kali komputer menyala selalu ada saja yang saya lakukan. Dan membuka blog pun terlupakan dengan suksesnya!! Jadi sekarang ini, sebelum saya berubah pikiran sebaiknya saya menulis. Hal sederhana seperti ulasan hotel, yang membuat saya jadi teringat masa liburan yang sudah lewat. Hal yang saya sukai, seperti memberi informasi kepada mereka yang sedang menyusun jadwal liburannya. Semoga ulasan saya bisa menghibur dan menjadi masukan buat anda sekaliannya (cieee cieee).

Crowne Plaza Bandung ini dikategorikan sebagai hotel bintang 4. Harganya waktu itu (Desember 2015) cukup murah bila dibandingkan dengan hotel dengan bintang yang sama di kota Bandung. Dan dari google maps saya tahu bahwa di sekitar hotel ini banyak tempat makan. Yang perlu diingat, wisata non-kuliner pun tetap membutuhkan jadwal makan, entah makan siang atau makan malam. Jadi menemukan tempat makan terdekat itu wajib hukumnya. Selain itu, hotel ini juga dekat dengan jalan Braga dan jalan Asia Afrika yang super terkenal itu.

Crowne Plaza 1

Area lobi menuju meja resepsionis yang luas dan lapang

Crowne Plaza 6

Area ruang tunggu dan ruang makan di latar belakang

Crowne Plaza 3

Pohon natal di tengah lobi, lift di sebelah kanan, dan bar di latar belakang

Crowne Plaza 4

Kamar di lantai 12. Yang menyenangkan, kami mendapatkan kamar di ujung bangunan. Dengan area yang cukup luas, nyaman sekali untuk kami ber 3. Kamar mandinya  dilengkapi dengan bathtub, shower, wc duduk dan wastafel. Nilai plusnya, lampu dan cermin khusus untuk merias wajah…..yeaaaa !!

Crowne Plaza 8

Karena kami menginap di hotel ini saat libur sekolah, okupansi hotel cukup tinggi. Dan sangat jelas terlihat saat makan pagi. Terlambat sedikit saja, bisa dipastikan semua kursi yang ada terisi penuh. Siasatnya, bisa pesan satu dari 2 ruang VIP yang menampung 10 orang atau minta akses khusus ke executive lounge di lantai 15. Tentu saja  pilihan menu makanan di lantai 15 tidak banyak, tapi cukup untuk mengenyangkan perut di pagi hari 🙂 . Sedangkan di lantai dasar, menu makannya sangat beragam. Mulai dari bubur sampai macam2 roti, dari buah sampai es krim, belum lagi macam2 sereal dan mie kuah. Puas? Banget!!! hahahaha

Untuk anak2, ada kolam renang yang cukup luas dan ruang bermain di lantai 3. Orangtua juga bisa berlatih beban di gym di lantai yang sama, dan dengan aman menitipkan anak2 di ruang bermain. Pengawasan yang ketat saat anak masuk dan keluar ruang bermain membuat saya tidak kuatir sama sekali. Bahkan staf penjaga minta nomer telepon genggam saya untuk dihubungi saat keadaan darurat. Yakin aman kan……

Oh ya, hotel ini juga menyediakan fasilitas parkir di 2 lantai basementnya. Ditambah free wi-fi (yang penting banget!) dan public PC di lantai dasar,  Crowne Plaza cocok sekali untuk tempat berlibur.

Lalu bagaimana dengan tempat makan? Ada banyak yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki ataupun naik becak. Daftarnya ini nih :

Batagor Kingsley

Es gg Bungsu

Saung

Toko Kue Purimas

Sushi Tei

Toko kue dan kafe Rasa

Mie Ayam Lodaya

Mie Naripan

Kafe dan resto di sepanjang jalan Sumatera dan jalan Naripan

Yang perlu diingat, Bandung termasuk kota kecil. Tapi dengan jumlah kendaraan yang luar biasa banyaknya. Perjalanan sejauh 7 km harus ditempuh dalam waktu 30-40 menit. Belum lagi jalan-satu-arah yang dimaksudkan untuk mengurangi kemacetan, tapi membuat kami harus selalu mengatur arah dan tujuan supaya tidak perlu berputar-putar di jalan yang sama. Sekali waktu, karena hujan deras kami terpaksa melewati jalan Sumatera sebanyak 3 kali demi kembali pulang ke hotel. Sejak itu, GPS wajib dinyalakan begitu kami masuk ke dalam mobil 😀

Jujur saja, banyaknya tempat wisata di Bandung (Lembang lebih tepatnya) membuat saya ingin kembali lagi ke kota ini. Tapi kapan? Menunggu Bandung tidak semacet sekarang? 10 tahun lagi? Semoga saja Pak Ridwan Kamil bisa menyulap Bandung menjadi destinasi wisata lokal yang lebih nyaman 🙂

Terima kasih telah mengikuti kami di thehousewecalledours !! Tuhan Yesus memberkati 🙂

 

 

 

Cat Papan Tulis Hitam

Mengapa oh mengapa……..setiap kali saya mencoba membuat judul, hasilnya kurang memuaskan ??? Dalam bahasa Inggris, judul tulisan kali ini adalah ‘Chalkboard Paint’. Tapi terjemahannya jadi serasa bertele-tele dan tidak praktis. Ah sudahlah….yang penting isinya!

Di sini saya ingin menuliskan mengenai pemakaian cat khusus, yaitu ‘Chalkboard Paint’.

DECOART-Americana-Chalkboard-Paint

Cat ini merubah permukaan media menjadi papan tulis hitam jadul – yang dipakai di sekolah2 jaman saya SD-SMA – dan bisa ditulisi dengan menggunakan kapur tulis atau (untuk menghindari debu) spidol kapur khusus alias ‘Chalkboard Marker‘.

Uchida Chalk Marker

Penggunaan Cat ini begitu mudah. Seperti cat air yang sering digunakan dalam pelajaran prakarya, yang harus kita lakukan hanya menggoreskan kuas ke permukaan yang diinginkan, tunggu sampai kering benar, goreskan cat lagi, dan tunggu sampai benar2 kering sebelum mulai ditulisi.

Kenyataannya tidak semudah tulisan !!!!!

IMG_20150121_180850

Bisa terlihat bahwa sapuan kuas yang saya pegang melebar kemana-mana dan hasilnya terlihat tidak rapi. Dan saya mencoba lagi dengan cara yang – seHARUSnya – lebih baik.

IMG_20150129_125225

Yeaaaaa !!!!! Kali ini hasilnya terlihat lebih rapi. Dengan bantuan selotip untuk mencegah agar cat tidak meluber ke tempat yang tidak diinginkan, terlihat bahwa garis cat lebih tegas dan profesional (ciee cieee…….). Sayang sekali bahwa spidol kapur ini agak susah dihapus. Mungkin karena cat kurang kering, atau saya yang tidak sabar menghapus tulisannya….. Yang berarti akan ada percobaan kedua. Yuhuuuu !!!!

Mengenai bahan2 yang saya gunakan dalam tulisan ini, selain 2 bahan utama di atas ada lagi bahan tambahan, yaitu :

kepingan kayu dengan lubang di atasnya

wooden tags

dan tali coklat kasar

jute twine

entah apa istilah bahasa Indonesianya …..

Terima kasih telah mengikuti kami di ‘The House We Called Ours’

Tuhan Yesus Memberkati !!!

Transfer Foto Menggunakan Mod Podge

Sudah lama saya ingin mencoba transfer foto/gambar dengan menggunakan Mod Podge. Waktu saya mencari cara transfer foto di google images maupun Youtube, sepertinya sangat menarik. Dan setelah berkali-kali menonton tutorialnya, akhirnya saya memberanikan diri mencoba transfer foto. Bukan pakai Mod Podge Photo Transfer seperti seharusnya, tapi menggunakan a) Mod Podge Paper Matte, dan b) Mod Podge Gloss. Mengapa tidak menggunakan Photo Transfer, yang fungsinya khusus untuk transfer foto? Alasannya banyak.

1. Harga Photo Transfer lebih mahal – jualan Mod Podge tidak membuat saya bisa bebas menambah koleksi Mod Podge saya kapanpun saya mau 🙂

2. Saya mendatangkan Mod Podge hanya beberapa kali dalam setahun. Dan sudah 2 tahun saya maju-mundur memutuskan akan beli Mod Podge Photo Transfer atau tidak. Kalau harus mundur lagi belinya, tidak akan ada tutorial ini (tutorial termasuk bahasa Indonesia atau tidak ya?)

3. Yang tersedia di rumah sekarang adalah 2 tipe Mod Podge itu

4. Saya ingin membuktikan sendiri bahwa transfer foto tidak harus menggunakan Photo Transfer

Dan akhirnya berhasillah saya menyusun tutorial ini setelah tertunda sekian minggu.

Awalnya saya sempat kebingungan karena dalam tutorial yang saya tonton, disebutkan bahwa untuk mendapatkan hasil foto transfer terbaik, kita harus menggunakan pencetak Laserjet untuk mencetak gambar/tulisan yang kita inginkan. Karena kalau hasil cetak kita menggunakan Inkjet, ada kemungkinan tinta cetaknya bakal luntur saat diolesi Mod Podge (yang cukup cair). Sedangkan di sekeliling saya semuanya menggunakan Inkjet. Setelah bertanya kesana kemari, saya baru tahu bahwa pencetak Laserjet biasanya hanya ada di perkantoran, karena harganya yang cukup mahal. Jadi akhirnya saya harus minta tolong pada kakak saya yang – kebetulan – bekerja di kantor yang memiliki pencetak Laserjet. Gambar dikirim melalui surat elektronik, dan ……. untuk mendapatkan hasilnya saya harus menunggu 2 minggu (!!!). Karena kami tinggal di kota yang berbeda.

IMG_20140808_130217

Bahan yang diperlukan sederhana dan mudah didapat di sekitar kita.

1. Kuas spons/kuas biasa

2. Mod Podge

3. Hasil cetak

4. Selembar tripleks (sebaiknya yang berwarna muda, seperti dalam foto)

5. Serbet (atau potongan celana sobek…..haha)

6. Meja yang siap dibuat kotor dan belepotan

7. Penerangan yang cukup (sinar matahari atau lampu)

Di tahap pertama ini saya mengoleskan Mod Podge ke atas kertas, dan menempelkan kertasnya secara terbalik ke atas tripleks.

Kesalahan Pertama : Saya lupa meminta kakak saya untuk mencetak tulisannya secara terbalik. Seharusnya gunakan perintah REVERSE dalam menu PRINT.

Kesalahan Kedua : Saya dengan lugunya menempelkan kertasnya begitu saja ke atas tripleks. Mengapa? Penjelasan ada di bawah 🙂

IMG_20140809_104420

Tahap kedua di kerjakan setelah kertas menempel sempurna di atas tripleks, dan Mod Podge mengering. Saya meninggalkan proyek ini semalaman. Di tahap ini sediakan :

1. Baskom isi air (bisa diganti botol semprot isi air, asal semprotannya halus, seperti face spray)

2. Spons cuci piring/serbet

IMG_20140809_104546

Celupkan spons/serbet ke dalam air, dan mulailah membahasi kertas sampai tulisannya terlihat (seperti dalam foto di atas). Nasi sudah menjadi bubur, tulisan terbalik apa boleh buat….tetap harus dilanjutkan.

IMG_20140809_105442

Setelah seluruh bagian kertas menjadi basah, mulailah menggosok kertas tersebut dengan lembut. Ternyata kertas itu punya beberapa lapisan (paling sedikit 2), dan yang mengelupas adalah lapisan paling atas. Sedangkan lapisan bawahnya masih menempel di tripleks

IMG_20140809_150603

di foto ini, hampir semua lapisan atas sudah terlepas, dan bahkan lapisan bawahnya ikut terlepas, karena saya terlalu bersemangat menggosoknya. Hasilnya jadi berlubang-lubang!!

IMG_20140818_173232

Jadi akhirnya saya memutuskan untuk mencoba lagi. Kali ini dengan menggunakan pencetak Inkjet. Kalaupun tintanya sampai luntur dan hasilnya mengecewakan, saya masih bisa mengelupas seluruh lapisan kertas sampai tripleks bersih kembali. Catatan penting : gunakan pencetak Inkjet dengan tinta aslinya, bukan tinta suntikan!!!

Dalam percobaan ke2 ini, saya menggunting bagian2 di sekeliling gambar sampai tinggal gambarnya yang tersisa. Dengan harapan supaya yang menempel di tripleks nantinya hanya bagian2 yang diinginkan tertempel di situ. Untungnya kali ini percobaan saya jauuuhhh lebih berhasil dibandingkan yang pertama. Dengan metode yang sama persis, saya menerapkan bagian membasahi dan menggosok dengan lebih berhati-hati. Jadi hanya bagian yang akan saya gosok saja yang dibasahi. Setelah selesai satu bagian, baru pindah ke bagian yang lain.

IMG_20140820_194110

 Ini hasilnya !!!! terlihat abstrak karena diambil dari Google Earth, dan menggambarkan tapak tanah thehousewecalledours.

IMG_20140820_194128

Di foto ini bisa terlihat (sekilas) bahwa masih ada lapisan kertas yang menempel di tripleks. Jadi sebetulnya bukan foto/gambarnya yang berpindah ke tripleks. Menurut saya. Apakah penggunaan Photo Transfer akan merubah pendapat saya? Entahlah.

Oya, mengenai percobaan pertama …….

a relationship with God 2

Pada gambar ini saya menggambarkan garis2 beraneka ragam, yang seharusnya saya gunting untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Di sini gunanya memotong bagian2 kertas yang tidak penting : supaya bagian2 itu tidak ikut terpasang di tripleks.

Dan yang jelas, akan ada percobaan2 berikutnya sampai saya puas dengan hasilnya. Atau sampai saya kehabisan Mod Podge (kayaknya mustahil!). Atau sampai pemilik pencetak kehabisan tinta Inkjetnya 😀

Ikuti terus perjalanan saya mewujudkan The House We Called Ours (dan pernak-perniknya)

Tuhan Yesus selalu memberkati 🙂

Impian saya

Menikah adalah saat 2 orang pribadi bersatu. Dengan segala keinginan, harapan, pendapat dan kepribadian yang berbeda. Khususnya di Asia, dimana pernikahan itu melibatkan keluarga besar. Bukan hanya suami dan istri saja.
Kadang2 perbedaan ini begitu besar sehingga bisa menimbulkan konflik tersendiri, yang akan cukup panjang bila dijadikan sinetron 😀
Jadi yang saya bahas di sini adalah keinginan/impian saya akan sebuah rumah yang ideal. Bukan keinginan kami berdua, dan juga bukan keinginan saya yang disetujui suami 🙂

(demi memenuhi kuota foto yang diizinkan wordpress, dengan sangat berat hati saya terpaksa menggunakan link dari luar. Sementara beberapa foto yang terpasang disini sebagian besar berasal dari google images)

Dimulai dari bagian depan rumah/eksteriornya :

garage door

talisa

Saya suka sekali dengan spanish style yang modern, seperti ini, ini dan ini

Saya juga suka dengan penggunaan window shutter atau daun jendela seperti di bawah ini :

daun jendela 2

Sekarang mari kita masuk ke bagian dalam rumah. Saya lebih suka rumah tanpa ruang tamu. Jadi begitu masuk rumah langsung ke ruang duduk yang menjadi satu dengan dapur dan meja makan. Seperti ini :

paint-pairings 1

Kesannya lebih santai dan terbuka. Selain itu, saat memasak juga lebih menyenangkan karena bisa dilakukan sambil berinteraksi dengan anggota keluarga yang lain atau saudara/sahabat yang datang berkunjung. Ada juga contoh lainnya di sini , di sini dan di sini

Mengenai perabot, saya tidak terlalu suka perabot yang kaku dan tidak nyaman. Buat saya, perabot yang tidak nyaman itu sama saja dengan pemborosan (tempat maupun uang). Tapi perabot yang nyaman dan fungsional pasti akan sangat berguna untuk sehari-hari. Seperti ini :

sliding book shelves to cover tv

Ini adalah rak buku yang juga bisa digunakan untuk menyembunyikan TV dan perlengkapan media. Karena TV seringkali dituduh sebagai ‘perusak desain’, maka jadilah perabot multifungsi seperti ini.

ty pennington organizer 2

Perabot yang ini cocok diletakkan di kamar tidur atau kamar mandi. Walaupun kelihatan seperti sebuah lemari biasa, ternyata perabot ini memiliki bagian2 yang tersembunyi di bagian sampingnya. Bahkan bagian dalam pintu lemari pun disiapkan untuk menampung barang2.

ty pennington organizer right side

Ini bagian sisi kanan dari lemari di atas. Sangat pas digunakan untuk menggantung perhiasan yang tidak memakan banyak tempat.

Perabot seperti ini yang sangat saya sukai. Sayangnya di sini jarang ada perabot semacam ini. Kalau mau, harus pergi ke tukang kayu dan minta dibuatkan sesuai keinginan. Padahal biasanya desain custom semacam itu harganya cukup mahal.

Oke, sekarang kita pindah ke dapur. Karena saya cukup sering masuk dapur, jadi keinginan saya cukup banyak juga di ruangan ini. Salah satunya adalah meja dapur yang mudah dibersihkan dan tidak sensitif (tidak berpori-pori). Kemudian juga bak cuci piring yang ergonomis dengan kran air yang tepat (saya tidak ingin membasahi seluruh lantai dapur hanya karena cipratan kran air yang tidak tepat). Dan lemari penyimpanan yang tepat, sesuai dengan kebutuhan saya.

kitchen-cabinets-with-storage

 

Lemari dapur yang memiliki laci di dalamnya seperti foto di atas adalah lemari ideal saya. Karena laci2 itu memudahkan saya untuk mengambil barang2 yang saya butuhkan. Apalagi kalau lacinya bisa ditarik maksimal. Masih ditambah dengan rak yang dipasang di bagian dalam pintu lemari……serasa terbang ke surga 🙂

disposal hole

Ini juga ide yang menarik, bila kita tidak keberatan untuk melubangi permukaan meja (tabletop, bukan top table). Tidak perlu mencari-cari tempat sampah, sampah langsung masuk ke tempat yang seharusnya.

knife drawer

Ini menurut saya adalah cara menyimpan pisau yang paling aman. Balok kayunya juga memiliki fungsi untuk memelihara kondisi pisau supaya selalu tajam dan dalam keadaan siap dipakai.

PF0408030t_1_v

 

Nah kalau foto di atas ini biasa disebut Pantry. Tapi entah kenapa, pantry dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi ‘dapur bersih’. Padahal sebetulnya pantry ini adalah tempat penyimpanan bahan makanan dan/atau peralatan memasak yang jarang digunakan.  Foto pantry yang saya pasang termasuk contoh walk-in pantry, artinya pantry yang berbentuk ruangan dan bisa dimasuki. Ada pula pantry yang hanya berbentuk lemari semacam ini atau ini

Untuk meja makan dan kursi, saya suka yang bergaya coastal atau beach house seperti ini atau ini. Kesannya santai dan informal. Saya juga suka meja makan yang dilengkapi dengan kursi rotan berbeda model, seperti di sini dan di sini

Ruangan berikutnya adalah ruang cuci atau laundry room. Kalau di Indonesia memang kita lebih banyak menggunakan jasa pembantu untuk mencuci dan jasa sinar matahari untuk mengeringkan baju. Tapi sebetulnya mencuci dengan mesin cuci membuat baju jadi lebih awet loo. Dan mengeringkan baju/cucian dengan mesin pengering butuh waktu lebih cepat dibandingkan dengan menjemur secara tradisional. Apalagi sekarang jasa pembantu makin susah didapat. Jadi saya membayangkan, kalau harus pakai mesin cuci dan pengeringnya sekaligus, kira2 ruang cuci saya seperti ini

08-wash-dry

 

yang hanya membutuhkan tempat selebar lemari 2 pintu

atau seperti ini yang membutuhkan ruangan dengan lebar sekitar 2 meter atau kurang

cottage-2008-la-house-laundry-room-xl

 

Untuk ruang tidur, saya suka ruangan yang tidak terlalu besar tapi diisi dengan perabot yang paling penting. Seperti ini bedroom 6

Yang terpenting adalah ranjang, 2 meja sebelah tempat tidur dengan 3 laci (nakas/bedside table), bangku panjang di kaki ranjang, sofa dan ottoman untuk duduk2, dan kabinet untuk TV/peralatan audio video. Tentu saja kamar mandi dalam dan ruang ganti (walk-in closet) tidak kalah pentingnya.

Untuk kamar mandi, kami hanya butuh 1 wastafel (karena kami tidak pernah menggunakannya pada saat yang bersamaan), shower dan toilet/wc. Kira2 seperti ini

shower 001

atau seperti ini, dan ini.

Bicara tentang walk-in closet, pasti semua wanita mendambakan ruangan ini. Ruang khusus tempat kita bisa menyimpan busana dan pelengkapnya. Apalagi kalau isinya barang2 berkualitas tinggi seperti closet milik selebriti yang bisa dilihat di sini, di sini dan di sini.

Yang pasti, walk-in closet butuh keteraturan. Sehingga bisa memudahkan kita untuk mencari barang/busana tertentu. Pemeliharaan dan perawatan barang/busana pun jadi lebih mudah.

walk-in Closet 2

Ruangan berikutnya adalah ruang belajar. Yang akan didominasi oleh buku dan komputer. Dan butuh meja untuk 2-3 orang. Kira2 seperti ini

study 101

dan ini

book display 2Maklum saja, kami bertiga penggemar buku. Kebanyakan sih buku fiksi, tapi sekarang mulai ditambahi dengan buku2 pengetahuan dan pembangun iman.

Untuk teras, saya ingin teras seperti iniporchdan dipasangi hammock/ayunan seperti ini

hammockSudah terbayang asiknya bersantai di atas hammock sambil membaca buku dan menikmati tiupan angin 😀

Untuk lantai rumah, saya ingin keramik motif kayu karena perawatan dan harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan barang aslinya. Walaupun masih tergolong mahal juga sih 😦

Sedangkan untuk dinding, saya malah belum punya bayangan. Antara warna netral dan warna cerah, atau warna tanah? bingung !! Mungkin untuk yang satu ini saya harus minta bantuan pada yang lebih berpengalaman 🙂

Oh masih ada lagi yang belum saya tulis : tema rumah secara keseluruhan! Ini lebih susah lagi. Tapi secara garis besar saya menyukai tema laut dan aksesori yang berhubungan dengan maritim seperti karpet di bawah ini

nautical rugs

 

Sudahlah, cukup sampai di sini saja bermimpinya !! Lain kali kita ‘cuci mata’ saja ke website interior/dekorasi. Mau ikut? Silakan 🙂

Terima kasih telah mengikuti perjalanan kami mewujudkan The House We Called Ours 🙂

Tuhan Yesus memberkati anda

 

 

Apa yang salah?

Ini bukan permainan ‘Apa yang salah dengan gambar ini’. Tapi sedikit penjelasan mengenai apa yang salah/kurang memuaskan dengan calon rumah kami. Dengan bahasa yang sederhana tentu saja, karena saya bukan orang tehnik. Saya hanya seorang ibu rumah tangga yang suka menulis/mengetik untuk mengasah kemampuan bercerita secara tulisan dan mencurahkan berbagai macam ide yang ada di kepala. Dst, dst ….. (kenapa saya jadi cerita macam2 ya ??)

Kesalahan pertama yang kami sadari adalah : kemampuan 3 dimensi kami yang biasa2 saja dan menyebabkan kami menganggap bahwa lahan yang kami miliki besaaaaarrrr sekali.

pic01145

Di atas kertas, lahan itu terlihat sangat besar. Apalagi luasnya sekitar 3000m2. Bandingkan dengan rumah2 di perumahan yang hanya memiliki luas sekitar 100 – 300 m2. Jauh sekali kan, bedanya? Akibatnya kami jadi seenaknya menanam pohon sebelum lokasi rumah/bangunan ditentukan. Dan begitu pengukuran dimulai, yang bisa kami katakan hanya, ‘Lo kok begitu?’, dan ‘Wah kelihatan kecil ya?’ !

Kesalahan kedua : Karena tidak didukung oleh orang2 yang profesional di bidang bangun-membangun rumah, saya dan suami menentukan ini dan itu secara mandiri. Bahasa kerennya sih autodidak. Tapi tidak kelihatan kerennya kalau sudah melibatkan kesalahan. Walaupun tidak terlihat fatal sih…… Ceritanya begini : untuk tembok pagar rumah, kami mendirikan tonggak2 cor semen dahulu sebelum memasang batako.

pic01144

Dalam bayangan kami, cara seperti ini lebih hemat biaya, karena kami dapat mengerjakannya secara bertahap. Tahap 1 pagar tembok setinggi 2,5 meter, tahap 2 pagar tembok sisanya, sehingga total tinggi pagar temboknya 5 meter.
Pada kenyataannya, pasangan batako dan tiangnya tidak mau (tidak bisa) menyatu!! Sehingga ada celah di antaranya. Padahal kami berpikiran untuk tidak melapisi tembok ini dengan adukan semen supaya tekstur batakonya terlihat jelas 😦

Kesalahan berikutnya adalah pada denah rumah.

final design

Kalau dilihat di atas kertas, sepertinya semua oke. Sempurna. Tidak ada celanya. Tapi tidak ada apapun di dunia ini yang sempurna 100%. Dalam postingan sebelumnya saya menyatakan bahwa denah ini sangat pas diterapkan di lahan yang kami miliki. Tapi pada kenyataannya, ada beberapa detail yang harus berubah.

final design revisi 1

[keliatan angkanya kan?]
Angka 1 menunjukkan ambang pintu ke ruang belajar. Ruang belajar ini fungsinya adalah untuk saya, suami dan anak mengerjakan tugas kami masing2. Saya ngeblog dan menjalankan online shop, suami bermain game online dan browsing, anak belajar, mengerjakan PR dan bermain. Maklum, anak cuma 1, kalau dibiarkan belajar sendiri di kamarnya malah jadi menjauh dari ortunya…..[kuatir yang tidak beralasan?]
Ambang pintu di denah ada di sebelah kiri ruangan. Tapi setelah dipikir-pikir, seharusnya ruangan ini tidak memerlukan pintu. Sepertinya cukup ambang pintu yang lebar saja sudah cukup. Dan di tengah2 dinding. Tapi karena pembesian untuk kusen pintu sudah dipasang, jadi saya menyerah. Tapi kami tidak/belum berencana memasang daun pintu di situ. Yah, sapa tahu butuh kamar tidur untuk tamu …….

Angka 2 adalah kamar mandi luar. Bentuknya yang hampir bujursangkar membuat kami jadi pusing menentukan letak sanitarinya….dan akhirnya jadi seperti ini :

kamar mandi luar

Angka 3 & 4 adalah ruang makan dan dapur yang direncanakan open-plan. Dari hasil konsultasi dengan sorang teman arsitek, kami disarankan untuk menutup daerah ruang makan dan dapur dengan dinding dan pintu, untuk memisahkan ruangan ini dengan ruang duduk. Alasannya supaya debu dan partikel dari makanan tidak beterbangan masuk dan lengket ke perabot ruang duduk. Bahkan dengan kipas penyedot (exhaust fan) pun tidak akan banyak menolong. Lagian watt-nya pasti besar 😦

Akhirnya kami memutuskan untuk membangun dinding pemisah, tapi tanpa pintu. Dan harus memasak masakan yang kira2 ribet di dapur servis

dapur&ruang makan

Tapi bagaimanapun jadinya rumah ini, tetap akan menjadi rumah dengan segala kerja keras dan keruwetan yang akan menjadi kenangan di masa depan. Rumah yang menjadi impian idealis kami, walaupun hanya mendekati 50%nya. Rumah yang menjadi tempat kami untuk membesarkan dan mendidik anak, yang semoga saja menjadi memori indah buat si anak. Rumah yang bisa menjadi bahan studi/perbandingan buat siapa saja yang ingin belajar ………….

Ikuti terus perjalanan kami mewujudkan the House We Called Ours !!!
Tuhan Yesus selalu memberkati !!!!!

Dasar dari segalanya

Yang mau saya bahas di sini adalah pondasi rumah. Ternyata susah juga menulis blog mengenai pondasi. Saya bukan seorang tukang atau pembangun. Kerjaan saya hanya menjepretkan kamera ponsel di area pembangunan. Kalau diajak diskusi soal denah dan interior…AYO!!! tapi begitu masuk ke bagian pondasi….???????

Jadi sebaiknya biarkan foto yang berbicara. Yang pasti, kami tidak mengeduk/menggali tanah, jadi pondasinya berdiri di atas tanah. Karena kami ingin rumah ini nantinya lebih tinggi dari badan jalan. Tahu sendiri kan, setiap tahun jalan bakal diaspal. Sebelum rumah ini berubah fungsi menjadi underground bunker…..hahahahahaha

Kami menggunakan semen Holcim [bukan promosi, hanya kebetulan karena kami kenal dengan suppliernya] dan batu kali serta pasir besi Lumajang yang terkenal bak selebriti 😀

IMG_20131209_141050

pondasi rumah

pondasi

pondasi rumah 2

pondasi rumah 3

Foto di bawah ini lebih bisa menjelaskan di mana seharusnya lantai rumah berada

pondasi

Dan yang ini adalah gambaran kira2 tinggi pondasi dari tanah

PANO_20140310_122353274

Semoga posting yang lain bisa lebih menjelaskan proses pembangunan rumah ini. Dan semoga saya bisa menjelaskannya dalam kata2, bukan hanya foto 😀

Terima kasih telah mengikuti The House We Called Ours. Tuhan Yesus memberkati 🙂

Yang tertunda …..

  • Sudah lama sekali saya tidak menulis di blog ini. Beginilah jadinya kalau 1 komputer digunakan oleh 3 orang sekaligus, suami, saya sendiri dan anak saya. Dengan pekerjaan harian seorang ibu rumah tangga yang, walaupun ngga masak, kerjaannya seabrek……plus hobi baca blog, dari blog satu ke blog lainnya ….. yang terbaru adalah design sponge dan design mom

    Jadi apa yang harus saya tulis di sini? dari mana saya harus mulai cerita yaa???? Setelah posting terakhir mengenai pembangunan rumah di sini, akhirnya keliatan juga bentuk rumahnya…..Tapi karena saya dan suami tidak punya latar belakang pendidikan interior maupun desain, jadilah kami berpusing-pusing sendiri menentukan ini dan itu.

    Belum lagi masalah tukang yang kami pakai jasanya. Untuk jasa tukang, kami memilih sistem harian (dibayar per hari) dan bukannya sistem borongan (bayar sesuai kontrak dan jangka waktu tertentu) karena ‘seharusnya’ lebih terjamin kualitasnya. Para tukang tidak bekerja terburu-buru karena mengejar target selesai, kami juga bisa mengawasi dengan lebih teliti. Tapi kalau setiap hari mereka (tukang2 ini) minta ditunggui dan diawasi selama sekian jam (mereka bekerja dari jam 7 pagi sampai jam 4 sore), ini yang bikin masalah…..

    Alhasil, badan suami jadi gosong demi menjadi mandor proyek ini 🙂

    IMG_20131022_154459

    IMG_20131217_151937

    IMG_20140211_135335
    Saat ini, pembangunan sudah sampai ke bagian dinding – menyusun batakonya, bukan pelapisnya – dan banyak sekali yang harus dipikirkan dan dibeli. Apalagi kami tidak punya yang namanya Rencana Kerja atau Urutan Pekerjaan. Seharusnya ada, tapi mungkin dipegang oleh si arsitek. Jadi kami harus bertanya terus, ‘minggu ini apa yang harus disiapkan?’, ‘setelah ini apalagi?’ dan seterusnya.

    Saya jadi sempat berpikir, apa sebaiknya kami beralih profesi menjadi kontraktor saja ya? bahkan dalam pikiran kami berdua, kalau ada yang menawar rumah ini dengan harga yang layak, kami akan langsung berkata “Ya” dan mulai membangun lagi dari awal. Dan menghindari kesalahan2 yang sudah terjadi di proyek yang sekarang ini 🙂

    Ikuti terus pengalaman kami membangun rumah impian ini 🙂
    Tuhan Yesus memberkati !!