Cuci mata : Keramik Trisensa, Probolinggo

Setiap kali perjalanan menuju Surabaya, saya selalu melewati pabrik keramik Trisensa yang berada di jalanan menuju arah kota Probolinggo (g perhatian dengan nama jalannya). Dan setiap kali pula, saya hanya berpikir ‘suatu saat harus mampir ke situ. Siapa tahu ada barang menarik dengan harga miring’. Tapi niatan itu tidak pernah terlaksana.

Sampai akhirnya, karena butuh beli rooster (lubang angin), jadilah saya mengunjungi pabrik ini. Dengan harapan barang yang kami cari masih tersedia di sana. Eh, ternyata bukan hanya rooster saja yang dijual di sini. Tapi juga perangkat makan, seperti piring, gelas, mangkuk, poci teh, cangkir dan sebagainya. Bisa beli dalam jumlah banyak, tapi juga boleh beli satuan. Ada yang cari suvenir nikah/ulang tahun?

ini rooster yang kami cari, ukurannya 10 x 20 cm

IMG_20140713_150404

 

 

Mug berbentuk klasik ini akan lebih cantik jika diberi monogram/inisial

 

IMG_20140714_130739

 

 

Satu set poci dan cangkir untuk porsi 1 orang

IMG_20140714_132911

 

Si burung kecil membuat mangkuk bertutup ini jadi lebih cantik!. Pegangan di kiri-kanan mangkuk memudahkan kita membawanya, celah di bagian tutup cukup diselipi sendok 🙂

IMG_20140714_132935

 

 

Bentuknya yang bulat menjadikan mangkuk bertutup ini lucu dan unik. Terlalu polos? Gunakan decoupage atau gambari dengan spidol Sharpie (tersedia di toko buku Gramedia)

IMG_20140714_132939

 

 

Cangkir lebar dengan warna pastel yang soft

IMG_20140714_133003

 

 

Guci untuk tempat dudukan galon air ini seakan dilukis tangan

IMG_20140714_133148

 

 

Ingin tahu lebih jauh tentang Trisensa? Ke sini saja

(Posting ini sepenuhnya pendapat pribadi saya, dan bukan sponsor dari blog saya. Terima kasih)

Ayo, ikuti terus perjalanan kami membangun the House We Called Ours !

Tuhan Yesus memberkati

Advertisements

Impian saya

Menikah adalah saat 2 orang pribadi bersatu. Dengan segala keinginan, harapan, pendapat dan kepribadian yang berbeda. Khususnya di Asia, dimana pernikahan itu melibatkan keluarga besar. Bukan hanya suami dan istri saja.
Kadang2 perbedaan ini begitu besar sehingga bisa menimbulkan konflik tersendiri, yang akan cukup panjang bila dijadikan sinetron 😀
Jadi yang saya bahas di sini adalah keinginan/impian saya akan sebuah rumah yang ideal. Bukan keinginan kami berdua, dan juga bukan keinginan saya yang disetujui suami 🙂

(demi memenuhi kuota foto yang diizinkan wordpress, dengan sangat berat hati saya terpaksa menggunakan link dari luar. Sementara beberapa foto yang terpasang disini sebagian besar berasal dari google images)

Dimulai dari bagian depan rumah/eksteriornya :

garage door

talisa

Saya suka sekali dengan spanish style yang modern, seperti ini, ini dan ini

Saya juga suka dengan penggunaan window shutter atau daun jendela seperti di bawah ini :

daun jendela 2

Sekarang mari kita masuk ke bagian dalam rumah. Saya lebih suka rumah tanpa ruang tamu. Jadi begitu masuk rumah langsung ke ruang duduk yang menjadi satu dengan dapur dan meja makan. Seperti ini :

paint-pairings 1

Kesannya lebih santai dan terbuka. Selain itu, saat memasak juga lebih menyenangkan karena bisa dilakukan sambil berinteraksi dengan anggota keluarga yang lain atau saudara/sahabat yang datang berkunjung. Ada juga contoh lainnya di sini , di sini dan di sini

Mengenai perabot, saya tidak terlalu suka perabot yang kaku dan tidak nyaman. Buat saya, perabot yang tidak nyaman itu sama saja dengan pemborosan (tempat maupun uang). Tapi perabot yang nyaman dan fungsional pasti akan sangat berguna untuk sehari-hari. Seperti ini :

sliding book shelves to cover tv

Ini adalah rak buku yang juga bisa digunakan untuk menyembunyikan TV dan perlengkapan media. Karena TV seringkali dituduh sebagai ‘perusak desain’, maka jadilah perabot multifungsi seperti ini.

ty pennington organizer 2

Perabot yang ini cocok diletakkan di kamar tidur atau kamar mandi. Walaupun kelihatan seperti sebuah lemari biasa, ternyata perabot ini memiliki bagian2 yang tersembunyi di bagian sampingnya. Bahkan bagian dalam pintu lemari pun disiapkan untuk menampung barang2.

ty pennington organizer right side

Ini bagian sisi kanan dari lemari di atas. Sangat pas digunakan untuk menggantung perhiasan yang tidak memakan banyak tempat.

Perabot seperti ini yang sangat saya sukai. Sayangnya di sini jarang ada perabot semacam ini. Kalau mau, harus pergi ke tukang kayu dan minta dibuatkan sesuai keinginan. Padahal biasanya desain custom semacam itu harganya cukup mahal.

Oke, sekarang kita pindah ke dapur. Karena saya cukup sering masuk dapur, jadi keinginan saya cukup banyak juga di ruangan ini. Salah satunya adalah meja dapur yang mudah dibersihkan dan tidak sensitif (tidak berpori-pori). Kemudian juga bak cuci piring yang ergonomis dengan kran air yang tepat (saya tidak ingin membasahi seluruh lantai dapur hanya karena cipratan kran air yang tidak tepat). Dan lemari penyimpanan yang tepat, sesuai dengan kebutuhan saya.

kitchen-cabinets-with-storage

 

Lemari dapur yang memiliki laci di dalamnya seperti foto di atas adalah lemari ideal saya. Karena laci2 itu memudahkan saya untuk mengambil barang2 yang saya butuhkan. Apalagi kalau lacinya bisa ditarik maksimal. Masih ditambah dengan rak yang dipasang di bagian dalam pintu lemari……serasa terbang ke surga 🙂

disposal hole

Ini juga ide yang menarik, bila kita tidak keberatan untuk melubangi permukaan meja (tabletop, bukan top table). Tidak perlu mencari-cari tempat sampah, sampah langsung masuk ke tempat yang seharusnya.

knife drawer

Ini menurut saya adalah cara menyimpan pisau yang paling aman. Balok kayunya juga memiliki fungsi untuk memelihara kondisi pisau supaya selalu tajam dan dalam keadaan siap dipakai.

PF0408030t_1_v

 

Nah kalau foto di atas ini biasa disebut Pantry. Tapi entah kenapa, pantry dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi ‘dapur bersih’. Padahal sebetulnya pantry ini adalah tempat penyimpanan bahan makanan dan/atau peralatan memasak yang jarang digunakan.  Foto pantry yang saya pasang termasuk contoh walk-in pantry, artinya pantry yang berbentuk ruangan dan bisa dimasuki. Ada pula pantry yang hanya berbentuk lemari semacam ini atau ini

Untuk meja makan dan kursi, saya suka yang bergaya coastal atau beach house seperti ini atau ini. Kesannya santai dan informal. Saya juga suka meja makan yang dilengkapi dengan kursi rotan berbeda model, seperti di sini dan di sini

Ruangan berikutnya adalah ruang cuci atau laundry room. Kalau di Indonesia memang kita lebih banyak menggunakan jasa pembantu untuk mencuci dan jasa sinar matahari untuk mengeringkan baju. Tapi sebetulnya mencuci dengan mesin cuci membuat baju jadi lebih awet loo. Dan mengeringkan baju/cucian dengan mesin pengering butuh waktu lebih cepat dibandingkan dengan menjemur secara tradisional. Apalagi sekarang jasa pembantu makin susah didapat. Jadi saya membayangkan, kalau harus pakai mesin cuci dan pengeringnya sekaligus, kira2 ruang cuci saya seperti ini

08-wash-dry

 

yang hanya membutuhkan tempat selebar lemari 2 pintu

atau seperti ini yang membutuhkan ruangan dengan lebar sekitar 2 meter atau kurang

cottage-2008-la-house-laundry-room-xl

 

Untuk ruang tidur, saya suka ruangan yang tidak terlalu besar tapi diisi dengan perabot yang paling penting. Seperti ini bedroom 6

Yang terpenting adalah ranjang, 2 meja sebelah tempat tidur dengan 3 laci (nakas/bedside table), bangku panjang di kaki ranjang, sofa dan ottoman untuk duduk2, dan kabinet untuk TV/peralatan audio video. Tentu saja kamar mandi dalam dan ruang ganti (walk-in closet) tidak kalah pentingnya.

Untuk kamar mandi, kami hanya butuh 1 wastafel (karena kami tidak pernah menggunakannya pada saat yang bersamaan), shower dan toilet/wc. Kira2 seperti ini

shower 001

atau seperti ini, dan ini.

Bicara tentang walk-in closet, pasti semua wanita mendambakan ruangan ini. Ruang khusus tempat kita bisa menyimpan busana dan pelengkapnya. Apalagi kalau isinya barang2 berkualitas tinggi seperti closet milik selebriti yang bisa dilihat di sini, di sini dan di sini.

Yang pasti, walk-in closet butuh keteraturan. Sehingga bisa memudahkan kita untuk mencari barang/busana tertentu. Pemeliharaan dan perawatan barang/busana pun jadi lebih mudah.

walk-in Closet 2

Ruangan berikutnya adalah ruang belajar. Yang akan didominasi oleh buku dan komputer. Dan butuh meja untuk 2-3 orang. Kira2 seperti ini

study 101

dan ini

book display 2Maklum saja, kami bertiga penggemar buku. Kebanyakan sih buku fiksi, tapi sekarang mulai ditambahi dengan buku2 pengetahuan dan pembangun iman.

Untuk teras, saya ingin teras seperti iniporchdan dipasangi hammock/ayunan seperti ini

hammockSudah terbayang asiknya bersantai di atas hammock sambil membaca buku dan menikmati tiupan angin 😀

Untuk lantai rumah, saya ingin keramik motif kayu karena perawatan dan harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan barang aslinya. Walaupun masih tergolong mahal juga sih 😦

Sedangkan untuk dinding, saya malah belum punya bayangan. Antara warna netral dan warna cerah, atau warna tanah? bingung !! Mungkin untuk yang satu ini saya harus minta bantuan pada yang lebih berpengalaman 🙂

Oh masih ada lagi yang belum saya tulis : tema rumah secara keseluruhan! Ini lebih susah lagi. Tapi secara garis besar saya menyukai tema laut dan aksesori yang berhubungan dengan maritim seperti karpet di bawah ini

nautical rugs

 

Sudahlah, cukup sampai di sini saja bermimpinya !! Lain kali kita ‘cuci mata’ saja ke website interior/dekorasi. Mau ikut? Silakan 🙂

Terima kasih telah mengikuti perjalanan kami mewujudkan The House We Called Ours 🙂

Tuhan Yesus memberkati anda

 

 

Apa yang salah?

Ini bukan permainan ‘Apa yang salah dengan gambar ini’. Tapi sedikit penjelasan mengenai apa yang salah/kurang memuaskan dengan calon rumah kami. Dengan bahasa yang sederhana tentu saja, karena saya bukan orang tehnik. Saya hanya seorang ibu rumah tangga yang suka menulis/mengetik untuk mengasah kemampuan bercerita secara tulisan dan mencurahkan berbagai macam ide yang ada di kepala. Dst, dst ….. (kenapa saya jadi cerita macam2 ya ??)

Kesalahan pertama yang kami sadari adalah : kemampuan 3 dimensi kami yang biasa2 saja dan menyebabkan kami menganggap bahwa lahan yang kami miliki besaaaaarrrr sekali.

pic01145

Di atas kertas, lahan itu terlihat sangat besar. Apalagi luasnya sekitar 3000m2. Bandingkan dengan rumah2 di perumahan yang hanya memiliki luas sekitar 100 – 300 m2. Jauh sekali kan, bedanya? Akibatnya kami jadi seenaknya menanam pohon sebelum lokasi rumah/bangunan ditentukan. Dan begitu pengukuran dimulai, yang bisa kami katakan hanya, ‘Lo kok begitu?’, dan ‘Wah kelihatan kecil ya?’ !

Kesalahan kedua : Karena tidak didukung oleh orang2 yang profesional di bidang bangun-membangun rumah, saya dan suami menentukan ini dan itu secara mandiri. Bahasa kerennya sih autodidak. Tapi tidak kelihatan kerennya kalau sudah melibatkan kesalahan. Walaupun tidak terlihat fatal sih…… Ceritanya begini : untuk tembok pagar rumah, kami mendirikan tonggak2 cor semen dahulu sebelum memasang batako.

pic01144

Dalam bayangan kami, cara seperti ini lebih hemat biaya, karena kami dapat mengerjakannya secara bertahap. Tahap 1 pagar tembok setinggi 2,5 meter, tahap 2 pagar tembok sisanya, sehingga total tinggi pagar temboknya 5 meter.
Pada kenyataannya, pasangan batako dan tiangnya tidak mau (tidak bisa) menyatu!! Sehingga ada celah di antaranya. Padahal kami berpikiran untuk tidak melapisi tembok ini dengan adukan semen supaya tekstur batakonya terlihat jelas 😦

Kesalahan berikutnya adalah pada denah rumah.

final design

Kalau dilihat di atas kertas, sepertinya semua oke. Sempurna. Tidak ada celanya. Tapi tidak ada apapun di dunia ini yang sempurna 100%. Dalam postingan sebelumnya saya menyatakan bahwa denah ini sangat pas diterapkan di lahan yang kami miliki. Tapi pada kenyataannya, ada beberapa detail yang harus berubah.

final design revisi 1

[keliatan angkanya kan?]
Angka 1 menunjukkan ambang pintu ke ruang belajar. Ruang belajar ini fungsinya adalah untuk saya, suami dan anak mengerjakan tugas kami masing2. Saya ngeblog dan menjalankan online shop, suami bermain game online dan browsing, anak belajar, mengerjakan PR dan bermain. Maklum, anak cuma 1, kalau dibiarkan belajar sendiri di kamarnya malah jadi menjauh dari ortunya…..[kuatir yang tidak beralasan?]
Ambang pintu di denah ada di sebelah kiri ruangan. Tapi setelah dipikir-pikir, seharusnya ruangan ini tidak memerlukan pintu. Sepertinya cukup ambang pintu yang lebar saja sudah cukup. Dan di tengah2 dinding. Tapi karena pembesian untuk kusen pintu sudah dipasang, jadi saya menyerah. Tapi kami tidak/belum berencana memasang daun pintu di situ. Yah, sapa tahu butuh kamar tidur untuk tamu …….

Angka 2 adalah kamar mandi luar. Bentuknya yang hampir bujursangkar membuat kami jadi pusing menentukan letak sanitarinya….dan akhirnya jadi seperti ini :

kamar mandi luar

Angka 3 & 4 adalah ruang makan dan dapur yang direncanakan open-plan. Dari hasil konsultasi dengan sorang teman arsitek, kami disarankan untuk menutup daerah ruang makan dan dapur dengan dinding dan pintu, untuk memisahkan ruangan ini dengan ruang duduk. Alasannya supaya debu dan partikel dari makanan tidak beterbangan masuk dan lengket ke perabot ruang duduk. Bahkan dengan kipas penyedot (exhaust fan) pun tidak akan banyak menolong. Lagian watt-nya pasti besar 😦

Akhirnya kami memutuskan untuk membangun dinding pemisah, tapi tanpa pintu. Dan harus memasak masakan yang kira2 ribet di dapur servis

dapur&ruang makan

Tapi bagaimanapun jadinya rumah ini, tetap akan menjadi rumah dengan segala kerja keras dan keruwetan yang akan menjadi kenangan di masa depan. Rumah yang menjadi impian idealis kami, walaupun hanya mendekati 50%nya. Rumah yang menjadi tempat kami untuk membesarkan dan mendidik anak, yang semoga saja menjadi memori indah buat si anak. Rumah yang bisa menjadi bahan studi/perbandingan buat siapa saja yang ingin belajar ………….

Ikuti terus perjalanan kami mewujudkan the House We Called Ours !!!
Tuhan Yesus selalu memberkati !!!!!

Dasar dari segalanya

Yang mau saya bahas di sini adalah pondasi rumah. Ternyata susah juga menulis blog mengenai pondasi. Saya bukan seorang tukang atau pembangun. Kerjaan saya hanya menjepretkan kamera ponsel di area pembangunan. Kalau diajak diskusi soal denah dan interior…AYO!!! tapi begitu masuk ke bagian pondasi….???????

Jadi sebaiknya biarkan foto yang berbicara. Yang pasti, kami tidak mengeduk/menggali tanah, jadi pondasinya berdiri di atas tanah. Karena kami ingin rumah ini nantinya lebih tinggi dari badan jalan. Tahu sendiri kan, setiap tahun jalan bakal diaspal. Sebelum rumah ini berubah fungsi menjadi underground bunker…..hahahahahaha

Kami menggunakan semen Holcim [bukan promosi, hanya kebetulan karena kami kenal dengan suppliernya] dan batu kali serta pasir besi Lumajang yang terkenal bak selebriti 😀

IMG_20131209_141050

pondasi rumah

pondasi

pondasi rumah 2

pondasi rumah 3

Foto di bawah ini lebih bisa menjelaskan di mana seharusnya lantai rumah berada

pondasi

Dan yang ini adalah gambaran kira2 tinggi pondasi dari tanah

PANO_20140310_122353274

Semoga posting yang lain bisa lebih menjelaskan proses pembangunan rumah ini. Dan semoga saya bisa menjelaskannya dalam kata2, bukan hanya foto 😀

Terima kasih telah mengikuti The House We Called Ours. Tuhan Yesus memberkati 🙂

Yang tertunda …..

  • Sudah lama sekali saya tidak menulis di blog ini. Beginilah jadinya kalau 1 komputer digunakan oleh 3 orang sekaligus, suami, saya sendiri dan anak saya. Dengan pekerjaan harian seorang ibu rumah tangga yang, walaupun ngga masak, kerjaannya seabrek……plus hobi baca blog, dari blog satu ke blog lainnya ….. yang terbaru adalah design sponge dan design mom

    Jadi apa yang harus saya tulis di sini? dari mana saya harus mulai cerita yaa???? Setelah posting terakhir mengenai pembangunan rumah di sini, akhirnya keliatan juga bentuk rumahnya…..Tapi karena saya dan suami tidak punya latar belakang pendidikan interior maupun desain, jadilah kami berpusing-pusing sendiri menentukan ini dan itu.

    Belum lagi masalah tukang yang kami pakai jasanya. Untuk jasa tukang, kami memilih sistem harian (dibayar per hari) dan bukannya sistem borongan (bayar sesuai kontrak dan jangka waktu tertentu) karena ‘seharusnya’ lebih terjamin kualitasnya. Para tukang tidak bekerja terburu-buru karena mengejar target selesai, kami juga bisa mengawasi dengan lebih teliti. Tapi kalau setiap hari mereka (tukang2 ini) minta ditunggui dan diawasi selama sekian jam (mereka bekerja dari jam 7 pagi sampai jam 4 sore), ini yang bikin masalah…..

    Alhasil, badan suami jadi gosong demi menjadi mandor proyek ini 🙂

    IMG_20131022_154459

    IMG_20131217_151937

    IMG_20140211_135335
    Saat ini, pembangunan sudah sampai ke bagian dinding – menyusun batakonya, bukan pelapisnya – dan banyak sekali yang harus dipikirkan dan dibeli. Apalagi kami tidak punya yang namanya Rencana Kerja atau Urutan Pekerjaan. Seharusnya ada, tapi mungkin dipegang oleh si arsitek. Jadi kami harus bertanya terus, ‘minggu ini apa yang harus disiapkan?’, ‘setelah ini apalagi?’ dan seterusnya.

    Saya jadi sempat berpikir, apa sebaiknya kami beralih profesi menjadi kontraktor saja ya? bahkan dalam pikiran kami berdua, kalau ada yang menawar rumah ini dengan harga yang layak, kami akan langsung berkata “Ya” dan mulai membangun lagi dari awal. Dan menghindari kesalahan2 yang sudah terjadi di proyek yang sekarang ini 🙂

    Ikuti terus pengalaman kami membangun rumah impian ini 🙂
    Tuhan Yesus memberkati !!

  • Dari meja sang arsitek

    Ternyata menggambar denah rumah itu susah banget ya ! Setelah mengumpulkan begitu banyak denah rumah, begitu banyak gambar interior dan eksterior selama bertahun – tahun (sejak kuliah!), sekarang begitu di meja gambar langsung ………… (terdiam, terpaku, termenung)

    Sempat pakai jasa arsitek di kota besar dan menghasilkan 8 kali perubahan, akhirnya saya menyerah dan memilih untuk menggambar sendiri dengan menggunakan website gratis : floorplanner

    Dibongkar, dirubah, dikecilkan, dibesarkan, dilebarkan, dibuat memanjang, dibuat melebar, diputar, dan dibongkar lagi …. dan hati masih saja ragu-ragu. Sudah 3 tahun menghadapi meja gambar virtual, akhirnya saya dan suami menyepakati satu gambar

    final design

    Kalau dibilang bahwa ini yang terbaik untuk kami, sebetulnya tidak. Karena saya dan suami menyukai aliran desain yang sangat bertolak belakang. Saya suka aliran country, cottage, shabby chic. Sementara suami menyukai aliran kontemporer, minimalis, modern.

    Tapi puji TUHAN! Waktu gambar ini dibawa ke site plan, ternyata memang inilah yang terbaik untuk lahan yang kami miliki. Karena ternyata site plan di atas kertas dan dalam kenyataan berbeda cukup jauh. Site plan di atas kertas sepertinya besar, luas, lebar. Sementara aslinya ternyata tidak seperti itu…..

    Setelah gambar utama selesai, masih ada hal2 kecil yang harus dirundingkan. Seperti dimensi pintu dan jendela, bahannya, pakai keramik lantai atau tidak, tatanan kamar mandi, tatanan dapur, dan lain sebagainya. Padahal kami belum masuk ke bagian yang lebih ‘njelimet’, alias tetek bengek yang kecil2 tapi tidak kalah pentingnya. Antara lain : handle pintu, profil di pintu dan jendela, menentukan kitchen set, menentukan keramik dinding dan lantai (dari sekian banyak pilihan, yang kelihatannya bagus2 semua), menentukan posisi saklar dan lampu ……………………………………

    Belum lagi menentukan fasad rumah….. begitu banyak pilihan, begitu banyak ide. Masalahnya, mana yang terbaik untuk rumah kami? Yang low maintenance, tidak cepat terlihat out-of-date, pengerjaan mudah, dan menyenangkan saat dipandang mata 🙂

    Ikuti terus perjalanan kami mewujudkan The House We Called Ours

    Tuhan Yesus Memberkati !!!!!

     

     

    bob the builder

    Adalah sebuah mujizat bila saat ini saya dan suami bisa memulai pembangunan rumah kami. Karena pada dasarnya, tabungan kami sangat jauh dari mencukupi untuk membangun sebuah rumah….Dan dalam hati saya sudah ‘menyerah’, ‘gapapa ga punya rumah sendiri, asal bahagia bersama suami dan anak’.

    Jadi saat ada berita bahwa dana siap diberikan pada kami untuk membangun rumah, kami yakin bahwa hanya karena kemurahan TUHAN maka dana itu ada. Dan datangnya pun pada saat kami sudah ‘angkat tangan’,  pada posisi pikiran, ‘diberi : puji TUHAN, tidak diberi : HALELUYA’. Pokoknya TUHAN selalu baik dan segala sesuatunya selalu indah pada waktu TUHAN.

    Berita tentang rencana kenaikan BBM membuat kami agak ‘panik’, karena kuatir harga bahan bangunan akan naik drastis. Jadi dalam 1 minggu ini kami bergegas meneken kontrak (walaupun nilainya kecil) dengan beberapa bahan dasar yang paling dibutuhkan, yaitu besi beton, semen, dan batu/pasir/koral.

    exterior 2(courtesy of mr. CM, Surabaya)

    Kami tidak berminat membangun rumah besar yang berpenampilan mirip istana, kok. Yang kami inginkan hanyalah sebuah rumah kecil, dengan kebun yang cukup lapang, sehingga bisa menghidupi kami sekeluarga. Impian saya sih, kami bisa memelihara beberapa binatang yang bisa diambil dagingnya (dan telurnya, tentu saja)

    Jadi di sinilah saya sekarang. Berusaha menata hidup sebagai seorang istri, ibu, penjual di olshop, arsitek dadakan (mimpi yang tidak agak terwujud), dan  perencana pembangunan the house we called ours

    Ikuti terus pengalaman saya membangun (kali ini beneran!) the house we called ours

    Tuhan Yesus memberkati 🙂

    Membuat sarung bantal pakai setrika

    Sesuai janji saya sebelumnya, di post ini saya mencoba berbagi cara membuat sarung bantal. Kalau biasanya sarung bantal dibuat dengan menggunakan kain dan mesin jahit, di sini saya menggunakan setrika sebagai ‘senjata sahabat’ saya.

    Peralatan utamanya adalah ini :

    IMG_20130604_222454

    Heat ‘n Bond ULTRAHOLD produksi thermoweb. Heat ‘n Bond ini adalah sejenis selotip 2 sisi, yang fungsinya bisa menggantikan mesin jahit. Khususnya bagi kita yang tidak pernah/tidak akrab dengan mesin jahit.

    Heat ‘n Bond saya kali ini lebarnya 220 mm, dengan panjang sekitar 9 meter. Karena terlalu lebar untuk dipakai membuat keliman kain, saya mengguntingnya menjadi 2 (dengan harapan bahwa walaupun digunting, fungsinya tidak akan berubah)

    P1060561

    dan ….. berhasil !!!

    Cara menggunakan Heat ‘n Bond (atau hemming tape) ini mudah sekali :

    Letakkan tape di kain (bagian dalamnya) dengan bagian kertas menghadap ke atas.

    Setrika selama kurang lebih 10 detik, dan biarkan dingin.

    Setelah itu buka bagian kertasnya, lipat kain, dan setrika lagi sampai kain melekat menjadi keliman sempurna.

    Terakhir, setrika keliman dari bagian luar (bagian bermotifnya)

    Secara keseluruhan,  peralatan lengkapnya adalah :

    P1060558

    1. Bantal yang akan dipasangi sarung (untuk ukurannya)

    2. Hemming tape

    3. Gunting

    4. Meteran

    5. Setrika

    6. Kain

    Dan tentu saja alas untuk menyetrika. Bisa meja setrika, atau meja biasa yang diberi alas tebal sebagai penahan panas.

    Saya menggunakan 2 metode dalam memasang  hemming tape.

    Yang pertama, saya meletakkan hemming tape persis di bagian pinggir kain. Seperti ini :

    P1060562

    Bagian ujung sedikit saya lebihkan, supaya pada saat kain disetrika, hemming tape bisa terpasang sampai ke ujung kain.

    P1060564

    Setelah dibiarkan dingin, saya mengelupas bagian kertasnya, dan melipat pinggiran kain sambil disetrika. Setelah semua keliman terpasang, saya menyetrika bagian depan kain.

    P1060565

    Ini dia kelimannya setelah jadi :

    P1060567

    Cara kedua, saya meletakkan hemming tape agak ke tengah dari pinggiran kain

    P1060568

    Dan karena potongan kainnya miring, ada bagian hemming tape yang terpasang miring ke bagian pinggir kain. Tenang saja, tape tetap melekat dengan baik, kok 🙂

    P1060570

    Setelah itu saya melekatkan hemming tape untuk membentuk kantung buat bantalnya

    P1060572

    Nah, di bagian ini saya membuat kesalahan. Seharusnya saya memotong kain selebar 110 * 55 cm, jadinya malah 110 * 110 cm. Dan akhirnya saya harus memodifikasi sarung bantal yang kebesaran ini supaya bisa digunakan.

    Akibatnya bagian belakang sarung bantal jadi seperti yang ditunjukkan oleh panah merah itu (berantakan!!)

    P1060576

    Untung bagian depannya cukup rapi, sehingga tidak terlalu mengecewakan hati … hiks hiks ….

    P1060575

    Bakal ada sarung bantal ke 2, 3, 4, dst nih kayaknya…. Karena saya pasti akan mencoba berkali-kali sampai bisa membuat sarung bantal yang baik dan benar. Tentu saja dengan bantuan hemming tape dan setrika saya 🙂

    Terima kasih telah mengikuti perjalanan saya menjadikan the House We Called Ours

    Tuhan Yesus memberkati !!!!

    Jalan-jalan : Hotel, Motel, dll (part 3)

    Selamat pagi semuanya !!!! Hari ini saya mau mengajak pembaca untuk ‘jalan-jalan’ ke pulau paling TOP di Indonesia, pulau Bali. Sepertinya begitu banyak yang bisa diceritakan tentang pulau ini. Dari daerah turis seperti Kuta dan Nusa Dua, sampai daerah sepi seperti Lovina dan Tulamben, semuanya serba menarik hati. Apalagi bagi para penggila olahraga air, Bali seperti surga untuk menyelam atau sekedar snorkeling.

    bali rama 2

    Kali ini saya ingin membagi cerita tentang Hotel Bali Rama. Hotel kecil ini terletak di daerah Renon, tepatnya di Jl. Hayam Wuruk, Denpasar. Meskipun begitu, lokasinya dekat sekali dengan Sanur. Hanya 10 menit naik mobil ke By-Pass Ngurah Rai, Sanur. Kalau kita ingin menjelajah Sanur, Ubud, dan Padang Bai, hotel ini tempatnya cukup strategis. Dan yang lebih penting lagi, hotel ini cukup dekat dengan tempat makan favorit kami di Sanur, yaitu warung  nasi ayam khas Bali, Kresna.

    P1040027

    Ini penampakan bagian depan hotel. Lumayan, halamannya bisa dimasuki 3-4 buah mobil. Lokasi hotel yang berada di jalan besar memudahkan tamu untuk mencari makan siang dan makan malam. Ada juga beberapa minimarket untuk memenuhi kebutuhan mendadak.

    bali rama

    http://www.thebaliramahotel.com/

    Hotel ini kamarnya ngga banyak. Hanya 17 kamar tidur, yang tersebar di 2 lantai mengelilingi sebuah kolam renang mungil.

    Bali Rama pool

    Fasilitasnya cukup oke. Ada makan pagi gratis (pilihannya : nasi goreng atau mie goreng – yang termasuk di dalam tarif kamar-waktu itu saya dapat lewat agoda seharga 350ribu rp/malam) dan free wi-fi. Tapi free wi-fi nya hanya bisa didapat di sekitaran lobby. Karena waktu itu kami mendapatkan kamar di lantai 2, jadi ga dapat sinyal deh. Untungnya di sebelah lobby ada warung internet. Jadi saya beli voucher internet untuk 2 jam (k.l. 5000rp)

    Ini tampilan lorong menuju kamar kami waktu itu (di sebelah kanan foto)

    Bali Rama rooms at daylight

    Ini kamarnya. Beda banget dengan tampilannya di agoda. Ranjangnya pas-pasan untuk kami bertiga (2 orang dewasa dan 1 anak usia 5 tahun). Tapi secara keseluruhan kamarnya bersih. Dan ada TVnya. Beruntung waktu kami datang pk. 7 pagi, kamar dalam keadaan kosong, jadi pk. 10 pagi kamu sudah bisa masuk dan beristirahat.

    bali rama 3

    Ini kamar mandinya. Bentuknya persegi panjang, dan model kamar mandi basah. Sayangnya wastafel kecil sekali, jadi agak sempit dan agak susah meletakkan sabun, gelas, sikat gigi dan pasta gigi. Belum lagi sabun mandi, shampoo, sabun cuci muka, dll. Jadi kalau mau mandi, saya menutup toilet dan meletakkan perlengkapan mandi di sana. Oya, hati-hati juga dengan keset kamar mandinya … tipis sekali. Tidak akan cukup untuk dipakai lebih dari 1 malam. Apalagi kalau habis berenang, dan memilih mandi di kamar ….

    Bali Rama bathroom

    Untuk keluarga dengan anak kecil, pasti suka dengan kolam renangnya, karena ada bagian yang khusus untuk anak-anak yang belum bisa berenang. Yang di sebelah kanan itu adalah lobi, sekaligus resto mungil untuk makan pagi

    Bali Rama children's pool

    Sekian dulu jalan-jalan kita kali ini. Post ini bukan merupakan promosi dari Hotel Bali Rama. Ini hanya sekedar pendapat saya atas Hotel Bali Rama.

    Sampai jumpa di post berikutnya 🙂

     

    Sarung bantal tanpa jahitan

    Sebagai seorang perempuan, saya bisa menjahit. Yang simpel-simpel aja sih. Pasang kancing, memendekkan celana anak, …… Tapi kali ini saya pengen membuat sarung bantal. Bagaimana caranya? Sedangkan menjelujur saja ga bisa lurus ….

    Ternyata ada cara praktis membuat sesuatu dengan kain. Cara pertama adalah dengan menggunakan lem kain. Tapi sepertinya cara ini kurang menarik. Lagipula saya tidak yakin hasilnya bisa rapi.

    Cara kedua adalah dengan menggunakan fusible web, atau iron-on hemming tape.

    iron-on hem tape(beli lewat amazon)

    sy-iron-on-hemming-strip(beli di IKEA)

    Saya mendapatkan cara pemakaiannya di 2 blog favorit saya, yaitu :

    http://www.younghouselove.com/2010/02/nursery-progress-getting-the-hang-of-it/

    dan

    supplies

    http://www.centsationalgirl.com/2011/03/no-sew-cloth-napkin-pillow-covers/

    Masalah utamanya sekarang adalah : barangnya belum ada di tangan saya. Jadi saat ini saya hanya bisa bersabar menunggu, kapan sarung bantal ini bisa dikerjakan

    Ikuti terus perjalanan saya di sini : the House We Called Ours !!